5 Perkara Agar Taubat Diterima Allah Ta’ala

Paket Umroh Akhir Tahun

Bagaimana agar taubat diterima Allah Ta’ala? Berbuat salah dan dosa pastilah pernah kita lakukan, kesalahan kecil hingga besar, namun pernahkah kita ingin bertaubat? Apakah karena besarnya dosa kita menjadi pesimis? Padahal Allah Ta’ala amat tidak menyukai orang yang berputus-asa terhadap RahmatNya.

Lalu bagaimana agar Allah menerima taubat kita? Maka silahkan baca artikel 5 perkara agar taubat kita diterima oleh Allah Ta’ala berikut ini.

Artikel mengenai bagaimana agar taubat kita diterima Allah?

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Salam berkata: ““Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)

Istilah dari Taubat merupakan istilah Al-Qur’an yang artinya kembali atau mundur. Jika kita menelaah al-Qur’an dan al Hadits maka taubat berarti meninggalkan apa yang Allah larang dan kembali kepada apa yang Allah perintahkan.

Taubat merupakan aspek sangat penting dalam agama Islam. Bagi seorang Muslim yang taat, taubat merupakan jalan keluar terbaik bagi hidupnya guna membersihkan diri dari kesalahannya.

Dalam Surat At-Tahrim (66) ayat 8, istilah Taubat dihubungkan dengan kata Nasuh yang merupakan kata sifat dalam bahasa Arab yang artinya murni dan tulus. Penghubungan itu menekankan agar taubat dengan penuh keyakinan dan tulus, yang bebas dari pura-pura dan kemunafikan.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (At-Tahrim 66: 8).

Sejumlah hadits Nabi menjelaskan perihal taubat dan betapa gembiranya Allah mendapati hamba-Nya yang bertaubat dengan tulus, seperti yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dalam Shahih Bukhari berikut ini:

“Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya dibandingkan kegembiraan seseorang yang menemukan untanya yang hilang di padang pasir.” (Al-Bukhari).

Namun amat disayangkan, tidak jarang kita temui ada sejumlah orang yang tidak dapat memegang janjinya kepada Allah dengan kembali melakukan dosa setelah memohon taubat. Untuk mereka yang seperti ini, maka kita bisa amati pembicaraan yang dikutip oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali berikut ini:

Seperti yang dikatakan oleh Al-Hasan, cucu nabi Muhammad S.A.W, “Tidak malukan seorang hamba (Allah) melakukan dosa, kemudian bertaubat, lalu berdosa kembali, selanjutnya ia bertaubat lagi?”

Al-Hasan berkata: “Inilah yang Setan inginkan! Yaitu tidak pernah berhenti untuk bertaubat.”

Dalam bahasan yang sama, Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah pernah berkata seperti berikut:

Lebih dari satu orang pernah berkata padaku: “Ketika saya bertaubat kepada Allah dan melakukan amal baik: Rezeki menjadi sempit dan hidupku menjadi sulit.

Namun, ketika aku kembali melanggar perintah Allah dan menuruti hawa nafsuku, kemudian rezeki menjadi lapang dan selainnya datang padaku.”

Maka aku jawab kepada mereka:

“Ini merupakan sebuah ujian dari Allah untuk melihat apakah kamu tulus atau tidak dalam bertaubat, mengikuti dan tunduk kepada Allah dalam ketaatan dan bersabar (Apa yang telah Dia tetapkan untuk mu dengan keadilan dan kebijaksanaan utuh) akan kau peroleh hasil akhir yang baik untuk mu; atau kamu tidak tulus oleh karenanya kamu kembali kepada hawa nafsumu.”

Namun begitu, jangan pernah ragu dan menunda untuk bertaubat, betapapun besar dosa yang telah kamu lakukan. Allah Yang Maha Melihat bahkan saat kamu melakukan dosa tidak akan pernah menolakmu jika bertaubat kepada-Nya.

Ini adalah dua puisi Jalaludin Rumi dimana ia katakan:

Tetaplah datang meskipun kamu telah melanggar sumpahmu ribuan kali.

Datanglah, dan datanglah kembali. Milik kita bukanlah kafilah keputus-asaan.

Tentu saja, seorang hamba Allah yang yakin akan ampunan-Nya seharusnya tidak pernah merasa putus asa jikalau gagal untuk tetap patuh terhadap Allah dan perintah-Nya.

Namun ia harus terus yakin dan berjuang agar kembali lagi mendapat ampunan dan cinta dari Allah, yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Karena Allah Maha Pengampun bahkan menyuruh hamba-hamba-Nya agar bertaubat:

“Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53).
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS. An-Nur: 31).

Dan jangan berputus-asa sebanyak apapun dosa dan kesalahan kita tetap Allah akan mengampuni kita.

5 perkara agar taubat diterima Allah Ta’ala

Sekali lagi, apakah maksud dari “taubat atau kembali kepada Allah”?

Apakah itu berarti memohon ampunanNya?

Apakah cukup mengatakan: “Oh Tuhan! Ampunilah diriku?!” Atau, “Aku memohon ampunan darimu wahai Allah Tuhanku!”

Tidak salah, tapi belum komplit. Lanjut baca kawan.

Menurut syariat Islam, ketika melakukan taubat, kita harus berprasangka baik bahwa Allah pasti menerimanya, apalagi kita melakukannya dengan tulus dan jujur.

Namun perlu diingat, pertaubatan bisa menjadi ejekan secara terbuka terhadap Allah Ta’ala, jikalau kita sebenarnya tidak malu terhadap perbuatan dosa kita telah lakukan saat bertaubat, dan tidak benar-benar ingin meninggalkannya, maka tentu saja itu hanyalah mengejek Allah. Maka itu pertaubatan secara verbal sebenarnya tidak lengkap, dan tidak tergolong sebagai pertaubatan yang tulus. Karena taubat yang tulus memiliki kriteria.

Seperti yang dinyatakan diatas, masalah taubat tidaklah sesederhana meminta ampun dan bukan perkara sebatas pengakuan lidah saja. Namun, yang taubat harus pula melakukan sejumlah sikap dalam mencari pengampunan dari Allah. Menyesali terhadap dosa telah dilakukan merupakan langkah awal dalam memohon pengampunan dari Allah.

Untuk bertaubat berarti kembali kepada Allah dan berniat untuk mematuhi Allah selama hidupnya. Agar taubatnya sah, dan diterima, maka lima hal ini yang dianjurkan dan diajarkan, mereka adalah:

1. Shalat Taubat

Melaksanakan shalat Taubat seperti yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sohbihi Wa Salam.

Sunan Abu Dawud (1521) meriwayatkan bahwa Abu Bakar As Siqied Radhiyallahu Anhu mengatakan: Saya mendengar Rasulullah (Shalallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sahbihi Wassallam) berkata: “Barangsiapa berbuat dosa kemudian mensucikan diri dan melaksanakan Sholat Dua Rakaat, kemudian memohon ampun kepada Allah, Allah akan mengampuninya.

Shalat Taubat merupakan Shalat Sunnah yang amat dianjurkan dan diajarkan oleh Nabi S.A.W.

Sebagai pengaya bahasan silahkan gunakan doa-doa taubat dari al-Quran dan al-Hadits untuk pembimbing karena doa-doa tersebut riwayat dari doa-doa para Nabi Allah Ta’ala.

2. Tulus bertaubat kepada Allah

Ketulusan merupakan syarat awal yang harus dimiliki setiap ibadah. Allah Ta’ala menyatakan dalam Al-Qur’an:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.”  (QS. At Tahrim: 8).
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Al-Bayyinah 98: 5).

3. Menyesali kesalahan kepada Allah Ta’ala

Ini artinya kita harus menyesali kesalahan dan dosa yang telah kita lakukan di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah melanggar dan menelantarkan perintah dan laranganNya.

4. Membenahi diri dan bertanggung-jawab

Jikalau dosa dan kesalahan kita lakukan ialah berkenaan dengan perintah agama seperti tidak mendirikan shalat Fardhu, atau membayar zakat, tidak berpuasa, maka hal ini harus dibenahi dimana kita berdosa hanya kepada Allah Ta’ala dan menyesali dan berjanji akan menunaikan kewajiban dari perintah Allah Ta’ala.

Namun jikalau dosa kita terhadap sesama manusia, semisal memakan hak manusia, berhutang, memfitnahnya dan menzalimi secara fisik. Maka kita harus meminta maaf dan membayar kerugian yang pernah kita lakukan / bebankan kepadanya. Semisal kita memakan harta mereka, maka kita harus mengembalikannya dan meminta maaf.

5. Berjanji untuk tidak lagi berdosa dimasa depan

Ini merupakan hal wajib bagi siapapun yang bertaubat untuk berjanji setelah bertaubat maka tidak lagi kembali kepada kemaksiatan dan dosa sebelumnya.

Jika ia kembali kepada kesalahan sebelumnya, maka taubatnya tidak tulus dan tidak diterima.

Akhirul kalam

Perlu di tekankan melalui bukti teks Al-Qur’an dan Sunnah beserta kesepakatan para Ulama mengenai kewajiban bertaubat sebagai berikut:

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur 24: 31).
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (Hud 11: 3).
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (At-Tahrim 66: 8).
Abu Hurairah (Radhiyallahu Anhu) meriwayatkan: “Aku mendengar Rasulullah (Shalallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sohbihi Wa Salam) berkata: “Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari).

Meskipun Nabi Muhammad sudah dijamin surga. Namun tetap bertaubat. Lalu bagaimana pendosa seperti kita?

Taubat merupakan hal penting yang butuh komitmen dari pelakunya. Selain mengucap dengan perkataan, ketulusan dan tindakan wajib pula dilakukan oleh pelakunya.

Maka bersegeralah bertaubat sebelum pintu taubat tertutup dan tidak akan terbuka kembali untuk kita.

Insya Allah bermanfaat dan sampai jumpa lagi di artikel-artikel saya selanjutnya.

Tinggalkan komentar