Apakah Wanita Tidak Memakai Hijab Akan Masuk Neraka?

  • Advertisements

  • Penjelasan lengkap berdasarkan dalil Al Qur’an apakah wanita tidak berhijab akan langsung masuk neraka? Jika ingin mengetahuinya maka silahkan baca artikel tanya jawab berikut ini. Insya Allah bermanfaat bagi kita semua.

    Pertanyaan:

    Jika seorang gadis tidak mengenakan Hijab, apakah dirinya akan masuk neraka? Namun bagaimana jika ia mengerjakan Shalat, membaca Al Qur’an secara rutin, beramal baik, tidak jelalatan matanya melihat pria, tidak melakukan gosip atau bergunjing atau fitnah dan tidak pula berpacaran apalagi berzinah.

    Apakah dengan tidak memakai hijab akan menghapuskan semua kebaikan si gadis?

    Jawaban:

    Segala puji hanya bagi Allah.

    Pertama yang harus kita fahami bahwa setiap Muslim pria dan wanita wajib mengikuti perintah dari Allah dan rasul-Nya, betapapun sulit perintah tersebut bagi kita dan tidak perlu merasa malu terhadap orang lain. Orang beriman yang tulus dengan imannya merupakan mereka yang tulus dan ikhlas melaksanakan tugas yang di diktekan oleh Tuhannya dan sepenuhnya mematuhi perintahnya dan menjauhkan apapun yang dilarangnya.

    Tidak seorang pun yang mengaku beriman, baik pria dan wanita, memiliki hak bahkan untuk ragu atau menunda perintah yang jelas diberikan kepada mereka, mereka harus mendengar dan mematuhinya dengan segera, terutama mengenai perintah dan firman Allah Azza Wa Jalla. Seperti yang teredaksi dalam surat al-Ahzab 33:36.

    وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

    “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.”[al-Ahzab 33:36].

    Dan ayat berikut merupakan pujian kepada orang beriman dari Allah, yaitu mereka yang mendengar dan taat, seperti teredaksi dalam Surat 24:51-52:

    إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

    “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”[al-Nur 24:51].

    Lebih lanjut, seorang Muslim seharusnya tidak memilah dosa sebagai dosa besar atau dosa kecil, namun seharusnya melihat bahwa melakukan dosa apapun (baik besar atau kecil) merupakan tanda ketidak-patuhan dirinya terhadap perintah Tuhannya, yaitu Tuhan yang Maha Besar, Maha Mulia, dan Maha Kuasa atas segala kekuatan dan amat pedih hukumannya, dan hukumannya amat menyakitkan dan menghinakan.

    Jikalau Allah menurunkan murkanya kepada mereka yang melanggar perintah-Nya, niscaya kehancuran total terjadi pada nasibnya. Seperti yang Allah Ta’ala firmankan dalam surat Huud (11): 102-103.

    وَكَذَٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَىٰ وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۚ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ

    102. “Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.”

    نَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِمَنْ خَافَ عَذَابَ الْآخِرَةِ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ

    103. “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi) nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk).”

    Sebuah dosa mungkin tampak tidak berarti dimata seseorang yang melakukannya namun dimata Allah itu merupakan perkara yang serius, sebagaimana firmanNya di Surat An-Nur 24:15.

    وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

    “Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.”

    Dan para ulama menjelaskan: “Jangan melihat kecil dari dosa, namun lihatlah siapa yang memberi perintah dan takutlah karena telah melanggarnya.” Kita wajib taat kepada Allah dan melaksanakan segala perintahNya. Kita harus ingat bahwa Dia mengawasi dalam situasi apapun, maka jauhi segala larangannya.

    Berkenaan dengan iman, jikalau seorang Muslim melaksanakan Shalat namun melakukan dosa dan amal buruk, maka ia tetap seorang Muslim sejauh ia tidak melakukan tindakan yang akan mencederai keimanannya atau melakukan hal yang membatalkan keIslamannya.

    Muslim yang berdosa ini akan diadili oleh Allah di akhirat, jika Allah berkehendak untuk menghukumnya, maka akan dihukum, jika berkehendak mengampuninya, maka diampuni. Jikalau dia masuk neraka, maka tidak akan kekal. Namun tidak ada satu orangpun yang pasti mengenai nasibnya, apakah ia akan dihukum atau tidak, karena semua masalah ini hanyalah Allah Azza Wa Jalla saja yang mengetahuinya.

    Pembagian dosa

    Dosa dibagi menjadi dua kategori, yakni dosa kecil dan besar. Dosa kecil mungkin dapat diperbaiki dengan melaksanakan Shalat, berpuasa dan melakukan amal baik. Sedangkan dosa besar tidak dapat diperbaiki dengan amal baik. Namun orang yang melakukan dosa besar harus taubat secara ikhlas dan tulus dari dosa besar yang telah ia lakukan (Silahkan baca Cara agar Taubat diterima Allah Ta’ala dan doa Taubat).

    Barangsiapa yang bertaubat, maka Allah akan menerima taubatnya (Silahkan baca cara melaksanakan Shalat Taubat). Ada sejumlah dosa besar seperti berdusta, berzina, makan riba, mencuri, tidak memakai hijab dan lain sebagainya.

    Dari penjelasan diatas maka kita tidak dapat memastikan apakah si gadis yang tidak memakai hijab akan masuk neraka, namun yang pasti ia pantas mendapat hukuman dari Allah karena telah melanggar perintahNya. Namun bagaimana nasibnya kelak di akhirat, hanya Allah saja yang tahu.

    Kita tidak dapat mengatakan apapun mengenai nasibnya, karena kita tidak mengetahui perkara ini kecuali hanya Allah saja yang tahu. Seperti penjelasan Allah Ta’ala dalam Surat Al-‘Isra 17:36 berikut ini.

    وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”[QS. Al-‘Isra (17):36].

    Adalah cukup bagi seorang Muslim yang beramal baik pasti memiliki hati yang sadar bahwa tindakan apapun yang dilakukannya akan dihakimi oleh Tuhannya, karena itu sudahlah pasti, dan hukuman Allah amat pedih dan menyakitkan, dan pastinya api neraka amatlah panas.

    الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ,“نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ

    “(Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka.” [al-Humazah 104:6-7]

    Sedangkan bagi seorang wanita yang mentaati perintah-perintah Tuhannya—termasuk mengenakan hijab—semoga akan masuk surga dan meraih kenikmatan dunia dan akhirat dan diselamatkan dari panasnya api dan siksa neraka.

    Saya pribadi merasa cukup aneh mengenai gadis yang anda ceritakan, ia memiliki karakter yang baik, mendirikan Shalat, berpuasa, tidak jelalatan matanya, tidak bergunjing, bergosip dan tidak memfitnah, namun tidak mengenakan hijab.

    Jikalau si gadis melakukan itu semua, maka merupakan indikasi kuat bahwa dirinya amat menyukai kebaikan dan membenci kejahatan. Karena seperti kita ketahui bahwa Shalat dapat mencegah kekejian dan kemungkaran, dan amal baik memberikan hal positif bagi seorang Muslim.

    Nampak jelas terdapat begitu banyak kebaikan pada diri gadis Muslim ini, dan dirinya amat dekat ke jalan takwa. Sebaiknya ia mengenakan hijab karena hal itu merupakan perintah Allah Azza Wa Jalla. Dia harus istiqomah dan mengacuhkan anggapan buruk seputar hijab atau tekanan masyarakat sekitar. Dan harus mengendalikan nafsu yang mungkin menggodanya untuk menampilkan kecantikan dirinya dan berbangga diri.

    Dia seharusnya menutup dan melindungi dirinya dan kecantikannya, dan menyelamatkan dari mata-mata jahil diluar sana. Ia seharusnya pula menolak segala godaan itu dan menjadi hamba Allah yang taat. Kami berharap ia terus teguh imannya dan cintanya kepada Allah dan rasul-Nya, dan sebaiknya mengenakan hijab untuk mematuhi dan mentaati perintah Allah Ta’ala. Seperti yang teredaksi dalam Al Qur’an Surah an-Nur (24):31.

    وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

    “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” [Qs. An-Nur 24:31].

    Dan Surah Al Ahzab (33):33.

    وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

    “Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.” [Qs. Al Ahzab (33):33].

    Allahu a’lam Bishawab.


    Tinggalkan komentar