Aturan Menjenguk Orang Sakit Sesuai Sunnah Nabi

Ini adalah artikel mengenai aturan dari Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam untuk menjenguk orang sakit agar kita melakukannya dengan benar dan tidak menyusahkan si sakit. Artikel ini berbentuk tanya jawab.

Pertanyaan: Apakah aturan dalam Islam mengenai mengunjungi orang sakit atau besuk orang sakit?

Segala Puji Hanya Bagi Allah. Jawaban: Mengunjungi atau membesuk orang sakit dalam bahasa Arabnya disebut Iyaadah (dari asal kata yang berarti kembali) karena kita kembali beberapa kali (Untuk membesuknya).

Aturan mengunjungi / membesuk orang sakit dalam Islam

Sebagian ulama memiliki pandangan bahwa membesuk orang sakit adalah Sunnah Muakkadah (Sunnah Yang Ditekankan)—Syaikh Islam Ibnu Taimiyah mendukung pandangan bahwa itu adalah kewajiban berjamaah (Fardhu Kifayah), sebagaimana yang ditanyakannya dalam Al-Ikhtiyarat halaman 85 dan ini pandangan yang benar.

Dan didukung di dalam Al Sahihain bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: Ada lima kewajiban setiap Muslim bagi saudara Muslimnya, “Salah satunya adalah mengunjungi / menjenguk orang sakit”. Keseluruhan Haditsnya adalah sebagai berikut.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم “حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ: إذَا لَقِيْتــَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاك فَأَجِبْهُ، وَإِذَاسْتَنْصَحَك فَانْصَحْهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَشمِّتْهُ، وَ إِذاَ مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذاَ ماَتَ فاتـْبَعْهُ”. (رَواهُ مُسلمٌ(

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu1 ia berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

“Hak seorang Muslim terhadap sesama Muslim ada enam, yaitu: (1) jika kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, (2) jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya, (3) jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah ia nasihat, (4) jika ia bersin dan mengucapkan: ‘Alhamdulillah’ maka doakanlah ia, (5) jika ia sakit maka jenguklah dan (6) jika ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya”. (HR. Muslim).

Dalam versi lainnya tertulis, “Hak-hak seorang Muslim bagi saudaranya adalah….” Al-Bukhari berkata: Dalam Bab kewajiban menjenguk orang sakit, dan ia meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Memberi makan mereka yang lapar, menjenguk orang sakit dan bebaskan tahanan”.

Hadits-hadits ini menekankan bahwa menjenguk orang sakit adalah kewajiban, dan dapat difahami bahwa ini merupakan kewajiban bersama seperti halnya memberi makan orang lapar dan membebaskan tawanan. Dan Al-Nawawi meriwayatkan bahwa hal ini merupakan ijma atau kesepakatan Ulama bahwa ini bukan perkara wajib. Al-Haafiz berkata dalam al-Fath 10/117: Ini bukanlah kewajiban individu.

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata dalam al-Sharh al-Mumti (5/173): “Pandangan yang benar adalah kewajiban bersama, dan para Muslim wajib untuk menjenguk orang sakit”.

Keutamaan yang didapat bagi yang menjenguk orang sakit

Ada banyak Hadits yang menjelaskan kebaikan dan keutamaan yang akan diperoleh bagi yang menjenguk orang sakit, hingga pahala di akhirat kelak, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sahbihi Wa Sallam: “Ketika seorang Muslim menjenguk saudara Muslimnya yang sakit, maka ia sedang memanen buah-buah Surga hingga ia kembali pulang”. [Diriwayatkan oleh Muslim, 2568].

Pahala yang didapat bagi mereka yang menjenguk orang sakit seperti halnya memanen buah-buah bagi mereka yang mengumpulkan buah.

Menurut Al-Tirmidzi (2008), Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ عَادَ مَرِيضًا أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِى اللَّهِ نَادَاهُ مُنَادٍ أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلاً »

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa menjenguk orang sakit, atau mengunjungi saudaranya seIslam (karena Allah), maka akan ada yang memanggilnya, bahwa engkau telah berbuat baik dan perjalananmu juga baik serta engkau telah menyiapkan suatu tempat tinggal di dalam Surga.” (HR. At-Tirmidzi no.2008, dishahihkan oleh Albani)

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Jaabir Radhiyallahu Anhu narrated that Jaabir berkata: Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang menjenguk orang sakit ia dihujani rahmat hingga ia duduk, dan ketika ia duduk maka ia menyelam dalam rahmat”. [Dikategorikan sebagai hadits Shahih oleh al-Albaani in al-Silsilah al-Saheehah, 2504].

Al-Tirmidhi (969) meriwayatkan bahwa Ali Radhiyallahu Anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Sallam) bersabda: “Apabila seorang Muslim menjenguk seorang Muslim (Yang Sakit) di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba, dan ia  akan mendapatkan sebuah taman di Surga”. [Dikategorikan Sahih oleh Al Bani dalam Sahih al-Tirmidhi].

Menjenguk orang sakit bukan berarti hanya menjenguk orang yang kita kenal, namun diwasiatkan untuk menjenguk baik orang yang kita kenal dan juga orang yang tidak kita kenal. Dan hal ini ditekankan pula oleh al-Nawawi dalam Sharh Muslim.

Definisi dari orang sakit adalah mereka yang wajib dijenguk yaitu orang sakit yang dengan sakitnya menghalangi dirinya bertemu manusia. Jikalau ia sakit namun ia bisa keluar dan bertemu manusia, maka tidak wajib menjenguknya. [Al-Sharh al-Mumti’, 5/171].

Bolehkah menjenguk Muslimah / Muslim yang bukan mahram?

Tidak ada dosa jika seorang pria mengunjungi wanita yang bukan mahramnya, begitupun seorang wanita menjenguk pria bukan mahram, sejauh syarat-syarat berikut dipenuhi: “Tidak berduaan saja, tidak ada fitnah, dan tertutup dalam artinya tidak terbuka pandangan”.

Imam Al-Bukhari berkata: “Bab wanita menjenguk pria (sakit). Umm al-Darda menjenguk seorang pria Anshar dari Masjid”. Kemudian dia meriwayatkan sebuah Hadits dari Aisyah Radhiyallahu Anha, yang bersabda bahwa dirinya menjenguk Abu Bakar dan Bilal (Radhiyallahu Anhuma) ketika mereka sakit di saat pertama kali mereka tiba di Madinah.

Muslim meriwayatkan dari Anas bahwa Abu Bakar berkata kepada Umar (Radiyallahu Anhu), setelah Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Sallam) wafat: “Mari pergi ke Umm Ayman dan jenguk dirinya sebagai Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Sallam) biasa menjenguknya”, maka mereka pergi ke rumahnya.

Ibnu Al-Jawzi berkata: “Hal ini harus diterjemahkan sebagai referensi sejauh tidak ada kekhawatiran dan fitnah, contohnya adalah wanita tua”.

Bolehkan menjenguk orang kafir yang sakit?

Tidak ada dosa menjenguk dan mengunjungi kafir musyrik yang sakit. Nabi Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sahbihi Wa Sallam menjenguk seorang bocah Yahudi dan mengundangnya kepada Islam, dan ia menjadi seorang Muslim. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1356).

Tujuan dari menjenguk kafir saat sakit salah satunya mengundangnya untuk masuk Islam, atau melunakan hatinya, atau meredam kebenciannya terhadap Islam, dan hal yang bermanfaat lainnya, lihat Fath al-Baari, 10/125.

Bolehkah kita menjenguk berulang kali?

Sebagian ulama memandang bahwa tidak seharusnya menjenguk orang sakit setiap hari karena hal itu bisa membebani yang sakit. Pandangan yang benar akan hal ini ialah boleh mengunjungi orang sakit berulang kali sejauh tidak setiap hari, namun ditentukan kapannya misalkan orang yang sakit parah hingga sakit berminggu-minggu atau bahkan sampai sebulan, maka lakukan kunjungi seminggu sekali, atau seminggu sekali dan seterusnya.

Dan apabila yang sakit adalah orang yang amat dikasihi dan sulit baginya untuk tidak menjenguknya setiap hari. Jika begitu adalah Sunnah untuk mengunjunginya secara berkelanjutan, sejauh tidak menyusahkan orang yang sakit. [Hashiyat Ibn Qaasim, 3/12].

Jangan berkunjung terlalu lama

Pembesuk tidak seharusnya duduk terlalu lama saat menjenguk orang sakit, sebaliknya waktu jenguk harus singkat dan tidak membebani si sakit. Orang sakit tentulah orang yang secara fisik dalam keadaan lemah, atau ia harus melakukan sesuatu sebagai bagian pengobatan yang ia tidak ingin dilihat oleh orang lain yang bisa jadi membuatnya malu, oleh karenanya batasi waktu kunjungan jangan berlama-lama.

Namun begitu, tergantung juga situasinya, ada orang sakit yang malah suka ditemani dan ngobrol berlama-lama dimana hal itu menghiburnya. [Hashiyat Ibn Qaasim, 3/12; al-Sharh al-Mumti’, 5/174].

Waktu berkunjung?

Tidak ditemukan dalam Sunnah yang menganjurkan waktu spesifik untuk membesuk orang sakit. Ibnu Al-Qayyim berkata: “Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Sallam) tidak menentukan waktu tertentu dalam hari atau waktu menjenguk orang sakit, namun ia mengarahkan pada waktu malam dan siang, pada setiap waktu”. [Zaad al-Ma’aad, 1/497].

Sebagian Salaf biasa menjenguk orang sakit di pagi hari atau awal sore, agar para malaikat mengirimkan berkah terhadap mereka, sebagaimana yang diberitakan dalam sebuah Hadits: “Apabila seorang Muslim menjenguk seorang Muslim (Yang Sakit) di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba, dan ia  akan mendapatkan sebuah taman di Surga”.

Namun kita harus pula memperhatikan kondisi si sakit dan waktu paling mudah baginya: pembesuk seharusnya menjenguk di waktu paling tepat dan mudah bagi si sakit, jika tidak malah bisa menyusahkan orang yang sakit. Ada baiknya dikonsolidasikan kepada keluarga yang sakit mengenai waktu terbaik untuk berkunjung.

Kunjungan yang sering dari orang yang berjenguk yang tidak kenal waktu dan berlama-lama malah membuat penyakit si sakit semakin memburuk.

Mendoakan orang yang sakit

Doa sebaiknya dipanjatkan kepada orang yang sakit seperti yang diwasiatkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

أَسْأَلُ اللَّهَ العَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, agar menyembuhkan penyakitmu.” (HR. at-Tirmidzi, dan Abu Daud).

Panjatkan doa sebanyak tiga kali

Doa kesembuhan harus dipanjatkan sebanyak tiga kali. Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Sallam) menjenguk Sa’ad Ibnu Abi Waqqas dan bersabda: “Oh Allah, sembuhkanlah Sa’ad,” sebanyak tiga kali. [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5659) dan Muslim (1628)].

Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam biasa menaruh tangan kanannya kepada orang sakit dan berdoa:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِه وأَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

 “ Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan dan berilah dia kesembuhan, Engkau Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain”  (HR Bukhari 535 dan Muslim 2191).

Untuk lebih lengkapnya silahkan menuju halaman yang berjudul doa untuk orang sakit berdasarkan Al Qur’an Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Diriwayatkan oleh Ahmad [2137] dan Abu Dawud [3106] bahwa Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Sallam) bersabda:

العَظِيمَ رَبّ العَرْشِ العَظِيمِ أنْ يَشْفِيكَ، إلاَّ عافاهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعالى مِن ذلِك المَرَضِ

Siapa yang menjenguk orang sakit, yang belum datang ajalnya. Kemudian dia membaca doa ini di dekatnya sebanyak 7 kali; maka Allah akan menyembuhkannya dari penyakitnya itu. [HR. Ahmad 2137, Abu Daud 3106, Turmudzi 2083, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth].

Penjenguk seharusnya bertanya keadaan si sakit berserta apa yang dirasakannya. Dan hal ini dipraktekan oleh oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam sebagaimana diriwayatkan oleh al-Tirmidhi (983) dan klasifikasikan sebagai Sahih oleh al-Albani.

Dan juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari bahwa Aisyah (Radiyallahu Anha) melakukannya disaat dirinya mengunjungi Abu Bakar dan Bilal (RadiAllahu Anhuma).

Menyemangati, menghibur dan memberikan harapan kepada si sakit

Sebuah Hadits mengenai hal ini diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi (2087) namun hal ini sebagai hadits lemah: “Ketika dirimu menjenguk orang sakit dan menenangkannya bahwa dirinya akan terus hidup, meskipun tidak merubah apapun, namun akan menyemangatinya”. [Diklasifikasikan sebagai Hadits Dhaif, oleh al-Albaani dalam Da’eef al-Tirmidhi].

Hadits ini didukung secara pemaknaan oleh perkataan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

لاَ بَأْسَ طَهُورٌ اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ

Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membersihkanmu dari dosa-dosa, Insya Alloh.” [HR. al-Bukhari dan Lihat al-Sharh al-Mumti’, 5/171-176].

Dan menjelaskan kepada si sakit bahwa sakitnya akan menghapus dosa-dosanya, seperti hal yang tertulis dalam sebuah Hadits yang di atas.

Baca pula mengenai doa kebaikan dunia dan akhirat.

Akhirul kalam

Itulah keseluruhan aturan menjenguk orang sakit sesuai Sunnah dari Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dengan begitu kita telah mengikat tali silaturahmi dan menghibur saudara/saudari seiman yang sedang diuji dengan sakit yang Insya Allah kita termasuk kedalam orang-orang yang diberi petunjuk. Dan semoga mereka yang sedang sakit diberi kesembuhan segera dan mendapatkan kesehatan jauh lebih baik sebelum ia sakit, Aaamiiin Allahuma Aaamiiin.

Itulah keseluruhan artikel tentang aturan menjenguk orang sakit menurut Sunnah dan semoga memberikan manfaat bagi anda. Silahkan beritahukan kepada keluarga, teman, saudara dan kerabat mengenai informasi ini siapa tahu mereka membutuhkannya. Dan sampai jumpa lagi di artikel-artikel Dakwah Ahlus Sunnah Wal Jamaah dari AiTarus.Com berikutnya di masa depan.

Tinggalkan komentar