Bacaan Adzan Dan Doa Setelah Adzan

Paket Umroh Akhir Tahun

Bacaan Adzan dan doa setelah Adzan Shahih. Di masa awal Islam tidak ada cara umum memanggil manusia untuk melaksanakan Shalat dan tidak ada pula cara memanggil Muslim untuk mendatangi Masjid untuk Shalat berjamaah.

Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam melihat kaum Yahudi, kaum Kristen dan kaum Musyrik melaksanakan hal ini. Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengadakan musyawarah dan menanyakan kepada para sahabat mengenai cara apa yang harus diterapkan untuk memanggil umat Islam untuk datang ke Masjid untuk Shalat berjamaah.

Satu pagi, Abdullah Bin Aziz Radhiyallahu Anhu mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan menceritakan mimpi yang dialaminya di malam sebelumnya. Di mana dirinya melihat seseorang mengumumkan waktu Shalat dan memanggil orang-orang untuk menuju Masjid untuk melaksanakan Shalat berjamaah dengan suara yang keras.

Kemudian Abdullah Bin Aziz (RA) menghubungkan kata-kata dalam mimpinya sebagai Adzan. Dan ini adalah keseluruhan seruan Adzan.

Adzan dan Iqomah adalah amalan sangat utama dalam Syariah dimana Rasulullah pernah mengatakan bahwa Muadzin (orang yang ber-adzan) sebagai orang yang diberi amanah dan mendapat ampunan-Nya.

“Imam sebagai penjamin dan muadzin (orang yang adzan) sebagai yang diberi amanah, maka Allah memberi petunjuk kepada para imam dan memberi ampunan untuk para muadzin” [Abu Dawud (1203), At Tirmidzi (207), dan Ahmad (II/283-419)].

Pengertian dari Adzan

Adapun arti dari Adzan menurut bahasa adalah seruan atau pemberitahuan. Hal ini dapat kita temui pada surat At Taubah Ayat 3:

وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ

“dan ini adalah seruan dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia”

Maka dalam Islam Adzan di artikan sebagai seruan untuk menandakan masuknya waktu Shalat Fardhu yang dikumandangkan rutin setiap harinya. [Taisirul ‘Alam Syarah ‘Umdatul Ahkam, hal 84].

Bacaan Adzan

Berikut adalah bacaan Adzan yang dikumandangkan bagi kaum Muslim Sunnah Wal Jamaah di tanah air.

Bacaan Adzan

(4x) ٱللهُ أَكْبَر

Latin.

Allahu Akbar.

Artinya:

Allah Maha Besar.

(2x) أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله

Latin.

Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah.

Artinya:

Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah.

(2x) أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ ٱلله

Latin.

Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah.

Artinya:

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah / Utusan Allah.

(2x) حَيَّ عَلَى ٱلصَّلَاة

Latin.

Hayya’ Alash Shalaah.

Artinya:

Marilah Shalat.

(2x) حَيَّ عَلَى ٱلْفَلَاح

Latin.

Hayya’ Alal Falaah.

Artinya:

Marilah menuju kemenangan.

(2x) ٱللهُ أَكْبَر

Latin.

Allahu Akbar.

Artinya:

Allah Maha Besar.

(1x) لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله

Latin.

Laa ilaaha illallaah.

Artinya:

Tiada tuhan selain Allah.

Adzan untuk Shalat Subuh

Jika mengumandangkan Adzan pada Shalat Subuh ditambahkan Assalatu qhairum minan nauum (Shalat lebih baik daripada tidur) tepat setelah menyerukan Hayya ala falaah.

  1. Allahu Akbar (4x).
  2. Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah (2x).
  3. Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah (2x).
  4. Hayya’ Alash Sholaah (2x).
  5. Hayya’ Alal Falaah (2x).
  6. Assalatu qhairum minan nauum (2x).
  7. Allahu Akbar (2x).
  8. La Ilaha Illallahu (1x).

Adab mendengarkan Adzan

1–Mengikuti yang diucapkan Muadzin

Disunnahkan untuk mengikuti atau menjawab perkataan Muadzin (Penyeru Adzan), kecuali disaat Muadzin mengumandangkan Hayya Ala Shalah dan Hayya Alal Falah , maka pendengar mengatakan La Haula Wa La Quwwata Illa Billah.

Adab mendengarkan Adzan ini berdasarkan Hadits berikut.

Diriwayatkan oleh ‘Umar ibn al-Khattab (Radhyallahu Anhu) berkata: Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Sallam) bersabda: “Jika muadzin mengumandangkan ‘Allahu akbar, Allahu akbar’  maka kamu juga kumandangkan, ‘Allahu akbar, Allahu akbar’; kemudian jika ia mengumandangkan ‘Ashhadu an la ilaha ill-Allah’ dan kamu juga kumandangkan ‘Ashhadu an la ilaha ill-Allah’; kemudian jika mengumandangkan, ‘Ash-hadu anna Muhammadan Rasool Allah’ maka kamu juga kumandangkan, ‘Ash-hadu anna Muhammadan Rasool Allah’; kemudian jika muadzin kumandangkan, ‘Hayya ‘ala’l-salah’ dan kamu kumandangkan ‘La hawla wa la quwwata illa Billah’; kemudian jika muadzin kumandangkan, ‘Hayya ‘ala’l-falah’ maka kamu kumandangkan ‘La hawla wa la quwwata illa Billah’; kemudian disaat Muadzin kumandangkan, ‘Allahu akbar, Allahu akbar’ dan kamu kumandangkan, ‘Allahu akbar, Allahu akbar’; kemudian ketika muadzin kumandangkan ‘La ilaha ill-Allah’ maka kamu kumandangkan, ‘La ilaha ill-Allah’ i hati, kamu akan masuk Surga.” (HR. Muslim, 385).

Mekanisme menjawab Adzan

Seperti yang sudah disinggung bahwa adab mendengarkan Adzan ialah dengan menjawab atau mengikuti perkataan Muadzin, kecuali pada bagian tertentu dari seruan Adzan yakni.

  • Menjawab / mengikuti seruan dari Muadzin.
  • Namun ketika pada bagian, Hayya’ Alash Sholaah dan Hayya’ Alal Falaah maka dijawab dengan La Haula Wa La Quwwata Illa Billah.
  • Khusus untuk Adzan Subuh di saat Muadzin mengumandangkan Assalatu qhairum minan nauum maka dijawab shadaqta wa bararta artinya Anda benar dan anda telah melakukan kebajikan.

2—Membaca Shalawat kepada Nabi

Dianjurkan pula untuk membaca Shalawat Allahumma sholli ‘ala Muhammad atau Shalawat Ibrahimiyah seperti ketika Tasyahud dalam Shalat.

Doa setelah Adzan

Doa Setelah Adzan Shahih
Doa Setelah Adzan Shahih

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ

Doa setelah Adzan latin

‘Allahumma robba hadzihid da’watit taammah wash sholatil qoo-imah, aati Muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqoomam mahmuuda alladzi wa ‘adtah’.

Arti doa setelah Adzan

Ya Allah, Rabb pemilik dakwah yang sempurna ini (dakwah tauhid), shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah (kedudukan yang tinggi), dan fadilah (kedudukan lain yang mulia.

Doa setelah Adzan ini dalilnya dapat ditemukan pada HR. Bukhari no.614.

Baca juga doa masuk Masjid.

Dianjurkan pula untuk membaca Syahadat setelah Adzan agar dosanya diampuni, yaitu membaca Syahadat berikut.

Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa.

Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha sebagai Rabbku, Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agamaku.

Hal ini berdasarkan Hadits berikut.

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا. غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ

Siapa yang mengucapkan setelah mendengar azan: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa (artinya: aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha sebagai Rabbku, Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agamaku), maka dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim no. 386).

Doa Setelah Iqomah

Setelah usai Adzan dikumandangkan maka ada waktu jeda sebelum mendirikan Shalat Fardhu, biasanya masa jeda waktu ini diisi dengan Shalat Sunnah Qabliyah / Shalat Rawatib seperti Subuh dan Dhuhur. Setelah itu maka akan dikumandangkan Iqomah atau popler disebut Qomat.

Dan doa yang disunnahkan untuk kita baca setelah Iqomah adalah

Bacaan Doa setelah Iqomah bahasa Arab

اَقَامَهَااللهُ وَاَدَامَهَا مَادَامَتِ السَّمَوَاتُ وَاْلاَرْضُ

Bacaan Doa Setelah Iqomah Latin

“Aqoomahallahu wa-ad aamahaa maadaa matis samaawaatu wal-ardl.”

Arti dari bacaan Doa Setelah Iqomah

“Semoga Allah mendirikannya (shalat) dan mengekalkannya selama langit dan bumi masih ada.”

Berdasarkan makna dari bacaan Iqomah diatas maka kita sebagai hamba Allah memohon kepada-Nya mendirikan dan mengekalkan Shalat selama dunia dan langit belum dihancurkan atau datangnya hari kiamat.

Itu artinya adalah Shalat merupakan kewajiban yang memang ditekankan dan diabadikan oleh Allah Azza Wa Jalla agar manusia terus mendirikannya.

Selain doa diatas, ada pula doa tambahan dari para ulama yang dibaca atau dipohonkan setelah Iqomah, adapun doa Iqomah para ulama itu adalah sebagai berikut.

وجعلنى من صالحي اهلها

Bahasa latin

“Wa ja’alani min salihi ahliha”.

Artinya:

“Dan semoga dia menjadikan aku termasuk yang terbaik dari ahli shalat.”

Hukum Adzan

Ada dua pendapat utama mengenai hukum Adzan pendapat pertama mengatakan bahwa Adzan termasuk kedalam Sunnah Muakkadah yaitu Sunnah yang amat ditekankan, dan pendapat kedua adalah Fardhu Kifayah, dan pendapat kedua ini lebih kuat dibandingkan pendapat sebelumnya [Shahih Fiqh Sunnah, cetakan Darut Taufiqqiyyah Litturotsi, Jilid I,halaman 240,karya Syaikh Kamal bin As Sayid Salim].

Namun Adzan hanya berlaku bagi kaum pria sedangkan wanita tidak disunnahkan atau diwajibkan untuk mengumandangkan Adzan.

Syarat  mengumandangkan Adzan

1. Dikumandangkan ketika sudah masuk waktu Shalat

Adzan dilakukan ketika sudah masuk waktu Shalat Fardhu 5 waktu, apabila dikumandangkan sebelumnya maka tidak sah. Namun hanya untuk Subuh dibolehkan untuk mengumandangkannya sebanyak dua kali, yaitu saat sebelum masuknya waktu Subuh dan kedua ketika waktu Subuh tiba atau masuknya Fajar Shadiq. [6]

2. Berniat adzan

Di anjurkan pula untuk berniat Adzan dalam hati, niat tidak perlu dibaca dengan suara, yaitu ingin mengumandangkan Adzan dengan ikhlas hanya kepada Allah Azza Wa Jalla saja.

3. Hanya menggunakan bahasa Arab untuk kumandangkan Adzan

Bagi sebagian ulama, Adzan hanya syah jika menggunakan bahasa Arab. Dan para ulama yang mengatakan demikian adalah ulama Madhzab Syafi’i, Hanbali dan Hanafiah.

4. Dikumandangkan dengan jelas dan benar

Diharuskan untuk mengucapkan setiap lafadz Adzan dengan benar dan jelas.

5. Adzan diucapkan secara berurutan

Diharuskan untuk mengucapkan lafadz Adzan sesuai urutan sesuai dengan yang diberitakan dalam Hadits Shahih. Urutannya bisa dilihat di bagian bacaan Adzan di atas.

6. Adzan harus terdengar oleh orang yang tidak berada di tempat Muadzin berada

Seorang Muadzin harus memastikan bahwa suara Adzan yang ia kumandangkan harus terdengar oleh orang-orang yang tidak berada didekatnya. Untuk hal ini bisa menggunakan pengeras suara.

Yang wajib bagi Muadzin

1. Harus seorang Muslim

Muadzin haruslah seorang Muslim, selain Muslim maka tidak syah untuk ber-Adzan. [Taudihul Ahkam Syarah Bulughul Maram, Cetakan Darul Mayman, Jilid I, halaman 605, karya Karya Syaikh Abdullah Al Bassam].

2. Harus Ikhlas hanya untuk Allah

Yang harus dimiliki oleh Muadzin adalah keikhlasan dengan niat mengharapkan Ridho Allah, sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda : “Tetapkanlah seorang muadzin yang tidak mengambil upah dari adzannya itu.”[Abu Daud (531), At Tirmidzi (672), Ibnu Majah (714), dan An Nasa-i (672)].

3. Amanah dan adil

Seorang Muadzin sewajarnya memiliki keadilan berikut amanah menurut waktu-waktu Shalat yang tepat.

4. Suara yang bagus

Hal ini sesuai yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam berkata kepada Abdullah bin Zaid Radhiyallahu Anhu: “pergilah dan ajarkanlah apa yang kamu lihat (dalam mimpi) kepada Bilal, sebab ia memiliki suara yang lebih bagus dari pada suaramu”. [Abu Daud (499), At Tirmidzi (189), Ibnu Majah (706)].

5. Memahami waktu-waktu masuknya Shalat

Adalah keharusan bagi seorang Muadzin memahami dan mengetahui kapan masuknya waktu Shalat, dengannya ia dapat mengumandangkan Adzan pada waktunya dan menghindari dari segala kesalahan. [Shahih Fiqh Sunnah, cetakan Darut Taufiqqiyyah Litturotsi, Jilid I, halaman 247, karya Syaikh Kamal bin As Sayid Salim].

Yang amat dianjurkan bagi Muadzin

1. Dalam keadaan berwwudhu atau suci

Menurut berbagai dalil amat menekankan bahwa Muadzin harus dalam keadaan suci, karena amat dianjurkan dalam keadaan suci apabila ingin mengingat Allah (Berdzikir). Silahkan lihat cara Wudhu sesuai Sunnah.

2. Muadzin dalam keadaan berdiri

Hal ini berdasarkan perintah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Shahbihi Wa Sallam berikut ini: “Berdiri wahai bilal! Serulah manusia untuk melakukan solat!”

3. Muadzin menghadap kiblat

Adalah keharusan bagi Muadzin untuk berdiri menghadap Kiblat saat mengumandangkan Adzan.

4. Jari dimasukan ke dalam telinga

Hal ini berdasarkan yang dilakukan oleh Bilal Radhyallahu Anhu. [At Tirmidzi (197) dan Ahmad (IV/308)].

5. Menyambungkan tiap dua-dua takbir

Yang dimaksud adalah menyambungkan kalimat Allahu akbar-allahu akbar tanpa jeda diantaranya. [HR. Muslim (385) dan HR. Abu Dawud (523)].

6. Menolehkan kepala

Di sunnahkan menolehkan kepala kekanan ketika mengucapkan “Hayya ‘Alas Shalah” lalu kemudian menolehkan kepada kekiri saat kumandangkan “Hayya ‘Alal Falah”. [Imam Bukhari (187) dan Muslim (503) dari Sahabat Abu Juhaifah].

7. Khusus untuk Adzan Subuh

Hanya untuk Adzan Subuh, yaitu menambahkan “ash shalatu khairum minannaum” setelah “Hayya Ala Falah”.  [Ahmad (16043), Abu Dawud (499),  At Tirmidzi (189), dan Ibnu Khuzaimah (386) dari Sahabat Anas bin Malik].

Akhirul kalam

Itulah keseluruhan bahasan mengenai bacaan Adzan dan doa setelah Adzan dari hadits Shahih yang sepatutnya dibaca setiap kali selesai Adzan dikumandangkan. Semoga bermanfaat dan silahkan beritahukan keluarga, teman, saudara dan kerabat siapa tahu mereka membutuhkan informasi ini dan sampai jumpa lagi di artikel-artikel Dakwah Islam dari AiTarus.Com di masa depan.

Tinggalkan komentar