Bolehkah Membayar Zakat Fitrah Dengan Uang?

Paket Umroh Akhir Tahun

Bolehkan membayar Zakat Fitrah dengan uang? Banyak dari kita yang bertanya mengenai bolehkah mengganti bahan makanan sebagai zakat Fitrah dengan uang. Untuk itu maka artikel ini akan membahasnya dengan lengkap yang Insya Allah dapat memberikan manfaat bagi semua yang membacanya.

Mengenai bolehkah Zakat Fitrah dengan Uang? Maka para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini, ada sebagian yang melarangnya sama sekali dan mengharuskan hanya berupa bahan makanan, yang lainnya memperbolehkan dan ada pula yang memperbolehkan dengan uang namun dengan persyaratan yang harus dipenuhi.

Apakah boleh membayar Zakat Fitrah dengan uang?

Di bagian ini akan saya ungkap beberapa pendapat ulama yang melarang membayar Zakat Fitrah dengan uang, berserta dalil yang mereka jadikan pegangan sebagai larangan mengganti Zakat Fitrah dari bahan makanan menjadi uang dan sejumlah fakta sejarah di zaman Nabi yang juga sebagai acuan penguat bahwa Zakat Fitrah memang berupa bahan makanan. Silahkan dipelajari dan di akhir bagian akan kami berikan kesimpulannya.

Para ulama yang melarang Zakat Fitrah dengan uang

Pendapat para ulama yang melarang bersandar bahwa Zakat Fitrah bukanlah Zakat Harta yang pembayarannya menggunakan uang senilai dengan zakat yang dibayarkan.

Sedangkan Zakat Fitrah adalah termasuk Zakat Badan oleh karenanya pembayarannya terikat dengan prosedur pembayaran kafarah untuk seluruh jenis pelanggaran. Seperti kita tahu bahwa keberadaan Kafarah adalah dampak karena pelanggaran dilakukan oleh badan, maka bukan termasuk kewajiban berhubungan dengan harta.

Karenanya pembayaran Kafarah adalah ditentukan, artinya jika sudah ditetapkan maka tidak bisa digantikan oleh bentuk pembayaran lain.

Maka apabila seorang Muslim membayar kafarah menggunakan benda selain yang ditentukan maka gugurlah kewajiban dirinya membayar kafarah dan harus diulangi.

Sebagai contoh, apabila sepasang suami-istri pada siang hari di bulan Ramadhan, tanpa alasan Syar’i. Maka Kafarah untuk mereka adalah membebaskan budak, atau melaksanakan puasa dua bulan penuh secara berturut-turut, atau juga membayarnya dengan memberi makan 60 orang miskin dan fakir, oleh karenanya tidak dibenarkan bagi suami istri menggantinya dengan menyedekahkan uang seharga budak, apabila tidak ada budak. Dan tidak bisa pula puasa selama 4 bulan namun putus-putus / tidak berturut-turut. Maka tidak boleh juga memberi uang dengan jumlah tertentu kepada 60 fakir miskin.

Kenapa begitu? Jawabannya adalah bahwa kafarah wajib dibayarkan sama seperti yang telah ditentukan oleh Syariat.

Lalu apakah penentuan pembayaran Zakat Fitrah mengikuti Kafarah?

Setelah menjelaskan mengenai kafarah, lalu apakah penentuan bentuk pembayaran Zakat Fitrah mengikuti aturan Kafarah? Menurut Ibnu Taimiyah, bahwa Zakat Fitrah mengikuti aturan Kafarah, dikarenakan Zakat Fitri termasuk ke dalam zakat badan, dan bukan termasuk zakat harta.

Ibnu Taimiyah melandaskan pendapatnya terhadap sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar dan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma berkenaan Zakat Fitrah.

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri (zakat fitrah), sebagai penyuci orang yang berpuasa dari perbuatan yang menggugurkan pahala puasa dan perbuatan atau ucapan jorok ….”(H.r. Abu Daud).

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri, … bagi kaum muslimin, budak maupun orang merdeka, laki-laki maupun wanita, anak kecil maupun orang dewasa ….” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim).

Dari kedua hadits ini tampak jelas bahwa posisi Zakat Fitrah merupakan Zakat Badan. Dikarenakan beberapa point berikut:

Pada Hadits disebutkan bahwa Zakat Fitrah berlaku kepada anak-anak dan juga budak, bukan hanya untuk orang yang memiliki harta. Anak-anak ditanggung oleh ayahnya sebagai kepala keluarga untuk membayar kewajiban zakat fitrahnya. Oleh karenanya jika Zakat Fitrah termasuk Zakat Harta, seharusnya anak-anak dibebaskan dari kewajiban ini.

Selain itu jika kita meneliti bahwa tujuan Zakat Fitrah adalah untuk membersihkan orang yang berpuasa dari hal-hal yang mengotori puasanya karena perbuatan dan ucapan tidak baik yang seharusnya tidak dilakukan.

Dari sinilah maka muncul opini yang meyakini bahwa Zakat Fitrah termasuk kedalam aturan Kafarah yang berguna untuk membenahi kekurangan puasa seseorang yang berpuasa.

Maka jika Zakat Fitrah berstatus seperti halnya kafarah

Maka kita kita akan dapati aturan hukum yang harus dipatuhi seperti halnya kafarah, yakni:

  • Maka Zakat Fitrah harus dibayar sesuai ketetapan yaitu bahan pokok makanan.
  • Maka Zakat Fitrah berikan kepada mereka yang berhak mendapatkannya guna menolong mereka.

Dalil lain melarang mengganti Zakat Fitrah dengan uang

Sebagai tambahan berupa fakta sejarah yang menjadikan dalil untuk melarang mengganti Zakat Fitrah dengan selain bahan pokok makanan, atau dengan uang adalah sebagai berikut.

1. Sudah ada mata uang di zaman Nabi dan para sahabat

Seperti kita ketahui bahwa di zaman Nabi dan para sahabat sudah terdapat mata uang seperti dinar dan dirham, akan tetapi beliau (S.A.W) dan para sahabatnya tetap menggunakan bahan makanan sebagai Zakat Fitrah.

Dari fakta ini bisa dibuktikan bahwa memang mengganti Zakat Fitrah dengan uang atau pengganti apapun tidak dibenarkan.

2. Zakat Fitrah sudah sudah ditetapkan ketentuannya

Merujuk kepada kedua hadits yang telah kami kutip di atas jelas disebutkan bahwa pembayaran Zakat Fitrah sudah ditetapkan segala urusannya seperti takaran, jenis, tata cara pelaksanaan hingga waktu pembayarannya.

Oleh karena itu adalah benar jika seorang Muslim memang mengeluarkan Zakat Fitrah sesuai dengan jenis yang ditetapkan yakni bahan makanan pokok, bukan menggantinya dengan apapun semisal uang. Beserta waktu membayarkannya, yakni sebelum Shalat Idul Fitri, dan ketentuan lainnya yang wajib dipatuhi.

Silahkan baca juga takaran (ukuran) Zakat Fitrah.

Pendapat ulama yang melarang mengganti uang untuk Zakat Fitrah

Penjelasan Imam Asy-Syafi’i

Dalam Ad- Din Al-Kash, diberitakan bahwa Imam Asy-Syafi’i menjelaskan, “Pembayaran Zakat Fitri adalah wajib berupa satu sha’ dari umumnya bahan makanan di suatu negeri pada tahun tersebut (Tahun dibayarkannya Zakat)”. (Ad-Din Al-Khash)

Perkataan Imam Malik

Dalam Al-Mudawwanah Syahnun Imam Malik menjelaskan, “Adalah tidak sah jika Zakat Fitrah dibayar dengan mata uang apapun. Karena itu bukanlah yang diperintahkan oleh Nabi”. (Al-Mudawwanah Syahnun).

Dalam Ad-Din Al-Kash, diberitakan juga bahwa Imam Malik menjelaskan, “Merupakan perkara wajib untuk membayar Zakat Fitri setara dengan satu sha’ bahan makanan yang umum dikonsumsi di negeri tersebut di tahun itu (Maksudnya adalah tahun Zakat Fitri dibayarkan).” (Ad-Din Al-Khash).

Penjelasan Imam Ahmad

Al-Khiraqi mengatakan, “Barangsiapa yang membayar zakat (Fitrah) dengan uang, maka tidak sah zakatnya”. (Al-Mughni, Ibnu Qudamah).

Abu Daud memberitakan, “Imam Ahmad ketika ditanya mengenai membayar Zakat dengan dirham. Beliau menjawab, “Aku khawatirkan zakatnya tidak diterima karena menyelisihi Sunnah Rasulullah”. (Masail Abdullah bin Imam Ahmad; dinukil dalam Al-Mughni, 2:671).

Silahkan baca juga hukum dan pengertian Zakat Fitrah.

Akhirul Kalam

Harta yang kita miliki sejatinya adalah milik Allah, sebagai hamba maka bukanlah pada tempatnya untuk melakukan yang diluar dari aturanNya. Apabila Allah telah melalui RasulNya telah menetapkan untuk memberi makan kepada yang berhak, maka sebagai hamba sudah sepantasnya mentaatiNya.

Untuk urusan ibadah, seperti Zakat, maka ketentuan yang paling mutlak untuk diikuti adalah ketentuanNya. Kita tidak berhak menyelisihinya dengan menggunakan akal.

Maka dari sejumlah dalil yang ada hanya satu kesimpulan bahwa Zakat Fitrah tidak boleh diganti oleh uang dan benda apapun selain bahan makanan yang dikonsumsi oleh sebuah daerah di tahun turunnya kewajiban untuk membayarnya.

Semoga informasi mengenai bolehkan membayar Zakat Fitrah dengan uang ini dapat memberikan manfaat kepada seluruh umat Islam yang memang mencari informasi tentang ini. Silahkan beritahukan kepada seluruh keluarga, teman, saudara dan kerabat yang mungkin membutuhkan informasi ini. Dan sampai jumpa lagi di artikel-artikel Dakwah Islam dari AiTarus.Com berikutnya.

Tinggalkan komentar