Bolehkah Mengucap Salam Dengan Bahasa Selain Arab?

Pertanyaan:

Apakah boleh mengatakan “Assallamnu Alaikym” atau mengucap dan menanggapi salam dalam bahasa selain bahasa Arab? Sukron.

Apakah boleh mengucap salam dengan bahasa selain Arab?

Jawaban:

Alhamdulillah.

Pertama:

Inti dari sapaan salam yang dilihat adalah makna, tujuan dan dampak, dan tidak diragukan lagi bahwa hal itu dapat dicapai melalui bahasa selain bahasa Arab. Karena itu para ulama memutuskan bahwa mengatakan hal-hal ini dalam bahasa Arab bukanlah suatu keharusan.

An-Nawawi (semoga Allah merahmatinya) berkata:

Berkenaan dengan memberikan salam dalam bahasa asing [non-Arab], ada tiga pendapat, yang ketiga adalah bahwa jika seseorang dapat mengatakannya dalam bahasa Arab, maka mengatakannya dalam bahasa selain Arab tidak berlaku baginya.

Saya [an-Nawawi] mengatakan: “Pandangan yang benar adalah bahwa sah untuk memberikan salam dalam bahasa asing, jika orang lain akan memahaminya, terlepas dari apakah dia mampu berbicara bahasa Arab atau tidak, dan harus menjawab salam itu, karena masih dianggap sebagai salam dan doa untuk pelakunya. Dan Allah Maha Tahu.” [Dari Rawdat at-Taalibeen (10/230)].

Mereka juga mengatakan bahwa ini berlaku ketika menyebutkan nama Allah pada saat memotong kurban.

Ibn Qudaamah (semoga Allah merahmatinya) berkata:

“Jika dia menyebut nama Allah, Azza Wa Jalla, dalam bahasa selain Arab, itu sah bahkan jika dia mampu berbicara bahasa Arab, karena tujuannya adalah untuk menyebutkan nama Allah, dan itu dimungkinkan dalam semua bahasa. Namun berbeda dengan mengatakan takbir (“Allahu akbar”) dalam doa, dikarenakan tujuannya adalah untuk mengatakan kata-kata secara tepat (maka harus dengan bahasa Arab).” [Dari al-Mughni (13/260)].

Tetapi apa yang harus dilakukan, jika pembicara dan orang yang dia ajak bicara sama-sama tahu bahasa Arab, maka pengucapan salaam dan jawabannya harus diberikan dalam bahasa Arab. Para ulama menyatakan bahwa bagi orang Arab untuk berbicara bahasa apa pun selain Arab saat salam itu tidak perlu dan menjadi makrooh (tidak disukai).

Syekh al-Islam Ibn Taymiyah (semoga Allah merahmatinya) berkata:

Ash-Shaafa’i berkata: “… Bahasa yang dipilih Allah, Azza Wa Jalla, adalah bahasa orang-orang Arab. Dia mengungkapkan Kitab Suci-Nya dalam bahasa Arab, dan menjadikannya bahasa terakhir dari para nabi-Nya, Muhammad (Shallallahu Alaihi Wa Sallam). Untuk alasan ini kami mengatakan bahwa siapa pun yang bisa belajar bahasa Arab harus mempelajarinya, karena itu adalah bahasa yang disukai, meskipun tidak haram bagi siapa pun untuk berbicara bahasa lain.”

Ash-Shaafa’i menganggapnya sebagai makrooh bagi orang yang tahu bahasa Arab untuk mengatakan “Bismillah (atas nama Allah)” dalam bahasa lain, atau untuk berbicara bahasa Arab bercampur dengan bahasa lain. Apa yang dikatakan para ulama terkemuka juga diriwayatkan dari Sahaabah dan Taabi’een.” [Dari Iqtidaa ‘as-Siraat al-Mustaqeem (1 / 521-522)].

Jadi dibolehkan untuk mengucap dan menjawab salam menggunakan bahasa selain bahasa Arab karena memang tidak ada kewajiban untuk itu, sejauh makna dari ucapan salam itu tetap seperti apa adanya. Semoga bermanfaat dan silahkan bagikan informasi ini kepada keluarga, saudara, teman dan kerabat apabila mereka membutuhkan.

Tinggalkan komentar