Advertisements

Cara Sholat Gerhana Beserta Niatnya

Niat shalat gerhana matahari untuk Imam:

أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ اِمَامًا لِلّهِ تَعَالَى

Latin: “Ushalli sunnatan-likhusuufi-syamsi imaaman lillali ta’ala”

Artinya: “Aku berniat shalat sunnah gerhana matahari sebagai Imam karena Allah ta’ala.”

Niat shalat gerhana matahari untuk Makmum:

أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ مَأْمُوْمًا لِلّهِ تَعَالَى

Latin: “Ushalli sunnatan-likhusuufi-syamsi makmuman lillali ta’ala.”

Artinya: “Aku berniat shalat sunnah gerhana matahari sebagai Makmum karena Allah ta’ala.”

Shalat gerhana paling afdhol dikerjakan berjamaah dan di Masjid

Berdasarkan hadits Nabi, maka pelaksanaan Shalat Gerhana paling afdhol dilakukan di Masjid dan berjamaah.

Ibnu Hajar mengatakan, ”Yang sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah mengerjakan shalat gerhana di masjid. Seandainya tidak demikian, tentu shalat tersebut lebih tepat dilaksanakan di tanah lapang agar nanti lebih mudah melihat berakhirnya gerhana.” [Fathul Bari, 4/10].

Ingat! Bukan berarti wajib hukumnya melaksanakan di Masjid dan berjamaah, hanya lebih afdhol saja, apabila anda ingin melakukannya sendiri di rumah juga sah.

Dibolehkan melaksanakan Shalat Gerhana sendirian

Tambahan mengenai bolehkah melaksanakan Shalat Gerhana sendirian, padahal hadits yang kita dapati bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi WaSallam melaksanakan secara berjamaah. Maka jika melakukan Shalat sendiri namun bagaimana dengan khutbah setelah shalat Gerhana?

Untuk itu kita bisa merujuk pendapat Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh Muhadzzab menjelaskan bahwa shalat gerhana, baik bulan maupun matahari, bisa dilaksanakan sendirian, tanpa jamaah. Karena khutbah hanya merupakan sunnah, bukan syarat sah.

حَدِيثُ عَائِشَةَ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ وَاتَّفَقَتْ نُصُوصُ الشَّافِعِيِّ وَالْأَصْحَابِ عَلَى اسْتِحْبَابِ خُطْبَتَيْنِ بَعْدَ صَلَاةِ الْكُسُوفِ وَهُمَا سُنَّةٌ لَيْسَا شَرْطًا لِصِحَّةِ الصَّلَاةِ قَالَ أَصْحَابُنَا وَصِفَتُهُمَا كَخُطْبَتَيْ الْجُمُعَةِ فِي الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوطِ وَغَيْرِهِمَا سَوَاءٌ صَلَّاهَا جَمَاعَةٌ فِي مِصْرٍ أَوْ قَرْيَةٍ أَوْ صَلَّاهَا الْمُسَافِرُونَ فِي الصَّحْرَاءِ وَأَهْلُ الْبَادِيَةِ وَلَا يَخْطُبُ مَنْ صَلَّاهَا مُنْفَرِدًا

“Hadis Aisyah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta ketetapan Imam as-Syafi’i dan para pengikutnya telah bersepakat atas kesunnahan dua khutbah setelah shalat gerhana. Dua khutbah tersebut hanyalah sunnah, bukan menjadi syarat sahnya shalat. Dua khutbah ini sama dengan khutbah Jumat dalam rukun, syarat dan selainnya, baik dilaksanakan berjamaah di kota besar maupun di desa, atau musafir di padang pasir maupun di perkampungan. Sedangkan orang yang shalat sendirian tidak perlu melakukan khutbah.”

Itulah informasi tentang Shalat gerhana matahari dan bulan dan semoga bermanfaat untuk anda semua dan silahkan beritahukan kepada keluarga, saudara, kerabat dan teman siapa tahu mereka membutuhkannya dan sampai jumpa lagi di artikel-artikel Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah dari Aitarus.com berikutnya di masa datang. Semoga informasi ini bermanfaat.

Catatan.
================

Sumber gambar: http://mediafunia.blogspot.com/2012/12/gerhana.html.

Tinggalkan komentar