Dimanakah Allah? Apakah Di Langit?

Paket Umroh Akhir Tahun

Dimanakah Allah? Apakah Allah bertempat dan bersemayam (Secara harfiah) di atas Arsy? Insya Allah artikel ini dapat menjawab semua pertanyaan itu.

Sekarang ini umat Islam dihadapkan pada masalah pelik yakni munculnya keyakinan bahwa Allah bertempat oleh mereka yang menamakan diri sebagai kaum Salafi.

Kaum Salafi yang meyakini bahwa Allah Ta’ala bertempat, mereka berdalih menggunakan sejumlah ayat-ayat al-Qur’an dan riwayat al-Hadis.

Disini sekali lagi umat Islam dihadapkan pada silang pendapat, yang tentunya mengakibatkan umat terbagi menjadi dua golongan. Yakni golongan yang menyetujui pendapat Allah Ta’ala bertempat dan golongan yang tidak mendukung pendapat itu.

Namun ada baiknya perbedaan pendapat ini kita sikapi dengan cara yang ma’ruf bukan cara yang munkar, karena tentu saja masing-masing pihak memiliki dalil.

Tugas masing-masing dari kita ialah menjelaskan dalil dimana kita berdiri kepada pihak yang lain bukan memberikan titel buruk, seperti ahli bid’ah dan panggilan buruk lainnya.

Seperti yang kini saya coba untuk lakukan ialah menjelaskan dalil bahwa Allah Ta’ala tidak bertempat selayaknya makhluk. Bukan dengan melemparkan gelar buruk.

Insya Allah bermanfaat. Silahkan dibaca, koreksi jika saya salah, yang benar dari Allah Ta’ala yang keliru dari kekhilafan saya.

Allah ada di Arsy

Kaum Salafi meyakini bahwa Allah berada di Arsyi’. Berpatokan dengan sebuah ayat dengan redaksi sebagai berikut.

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Artinya:

“Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.”

Menurut mereka Istiwa’ pada ayat diatas merupakan artian secara harfiah—bukan majas bukan pula metafora—akan tetapi makna sebenarnya yang berarti Allah Azza Wa Jalla benar-benar berada / bersemayam atau bahasa mudahnya duduk diatas Arsy sebagai singgasananya.

Berpegang pada ayat ini maka kaum Salafi meyakini bahwa Allah Ta’ala memiliki tempat yakni Arsy’—yang merupakan singgasanaNya.

Allah Ta’ala ada di langit

Untuk semakin menguatkan argumen bahwa Allah Ta’ala bertempat, maka saudara kita dari golongan Salafi membawa al-Hadis pula ayat al-Qur’an yang lain sebagai pendukung keyakinan mereka.

Ada sebuah al-Hadis yang meriwayatkan dialog antara Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam dengan seorang budak wanita, saat Nabi menanyakan dimana Allah Ta’ala? Budak itu menjawab: “dilangit!” Redaksinya sebagai berikut:

Dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu ‘anhu; dia berkata, ”Aku mempunyai seorang budak perempuan yang menggembalakan kambingku di antara gunung Uhud dan Al-Jawaniyah. Suatu hari aku mengawasinya; tiba-tiba seekor serigala menerkam kambing yang dia gembalakan. Sebagai manusia biasa, tentu saja aku merasa kecewa sebagaimana orang lain kecewa. Aku pun memukul dan menampar budakku itu. Kemudian aku menemui Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau menegurku. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa aku harus memerdekaannya?’ Beliau berkata, ‘Bawa dia kemari.’Kemudian beliau bertanya kepadanya, ‘Di mana Allah?’

Budak itu menjawab, ‘Di langit.’

Beliau berkata, ‘Siapakah aku?’

Dia menjawab, ‘Engkau adalah Rasulullah.’

Beliau bersabda, ‘Merdekakan dia! Sesungguhnya dia seorang mukminah.’” (HR.Muslim dan Abu Dawud).

Selanjutnya ayat al-Qur’an yang mengatakan “keberadaan” Allah Ta’ala di langit adalah berikut ini:

نْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersamamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang.” (Al-Mulk: 16).

Kaum Salafi memaknai keterangan dalam ayat al-Qur’an dan matan al-Hadis ini dengan makna yang hakiki, dalam artian tepat seperti yang tertulis.

Jika begitu pemaknaan mereka, maka kita akan bertanya, dimanakah sebenarnya Allah Ta’ala? Karena banyak keterangan lain baik dari al-Qur’an pula al-Hadis yang memberitakan tentang keberadaan Allah Ta’ala selain di langit.

Seperti ayat al-Quran yang menjelaskan Allah Ta’ala lebih dekat dari urat leher:

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. [Qs. Qaff : 16]

Dan Allah berada di tempat yang dituju oleh Nabi Ibrahim Alaihi Sallam:

وَقالَ إِنِّيْ ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ الصافات

Artinya:

“Dan Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku, yang akan memberiku petunjuk.” (QS. al-Shaffat : 99).

Kalimat “aku pergi menuju Tuhanku” yakni Nabi Ibrahim Alaihi Salam, meninggalkan kaumnya yang kafir, ke suatu tempat yang ditafsirkan sebagai Syam dan tafsir lainnya adalah Palestina.

Lalu pertanyaannya, apakah Allah berada di negeri yang dituju Ibrahim Alaihi Sallam, lalu bukankah Allah Ta’ala ada di Arsy?

Kini kita bertanya lagi bagaimana dengan Nabi Allah Musa Alaihi Sallam yang pergi menuju Tursina untuk bermunajat menemui Allah, seperti teredaksi pada ayat berikut ini:

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhannya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa, ‘Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau…” (QS. Al-A’raf: 143).

Atau apakah Allah Ta’ala berada dihadapan orang yang sedang mengerjakan Sholat, seperti penjelasan al-Hadis berikut ini?

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat dahak di arah kiblat, lalu beliau menggosoknya dengan tangannya, dan beliau kelihatannya tidak menyukai hal itu. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya apabila salah seorang kalian berdiri dalam shalat, maka ia sesungguhnya berbincang-bincang dengan Tuhannya, atau Tuhannya ada di antara dirinya dan kiblatnya. Oleh karena itu, janganlah ia meludah ke arah kiblatnya, akan tetapi meludahlah ke arah kiri atau di bawah telapak kakinya.” (HR. al-Bukhari [405]).

Lalu sebenarnya dimana Allah Ta’ala? Di Arsy, di langit, atau ditempat yang dituju oleh Nabi Ibrahim? Apakah Allah Ta’ala berpindah-pindah antara Arsy kemudian tingkatan kelangit, lalu menuju tempat yang dituju oleh nabi Ibrahim atau Nabi Musa Alaihi Sallam? Atau juga Allah Ta’ala berada dekat dengan urat leher hamba-hambaNya?

Jika kita memakai pola pikir kaum Salafi, maka akan membawa pada kesimpulan bahwa Allah Ta’ala sering berpindah.

Hasilnya muncullah kesimpulan bahwa Allah Ta’ala sama seperti makhlukNya yang terikat ruang dan waktu dan sekaligus perlu dukungan tempat duduk untuk menopangNya.

Nauzubillahiminzalik semoga kita terlindungi dari fikiran-fikiran buruk seperti itu.

Pendapat mayoritas umat Islam mengenai ayat Allah Istiwa’

Bagi Umat Islam ayat tersebut merupakan mutasyabihat, dan meyakini bahwa yang dimaksud di ayat itu sebagai majas perumpamaan, untuk memahaminya maka ulama melakukan takwil bukan mengartikannya secara harfiah.

Para ulama Ahlussunnah Wal Jamaah men-takwil Istiwa’ menjadi “menguasai” Arsy’, dengan maksud menunjukkan bahwa Allah Ta’ala amat berkuasa.

Takwil Istiwa’ menjadi Menguasai Arsy, dikarenakan Arsy merupakan makhluk terbesar dan tertinggi yang Allah Ta’ala Ciptakan itu artinya bahwa Dia Menguasai Makhluk yang terbesar berarti apalagi semua makhluk yang lebih kecil darinya.

Itulah pemahaman Ahlussunnah Wal Jamaah.

Dimanakah Allah berada?

Karena Ahlussunnah Wal Jamaah meyakini bahwa Allah Ta’ala tidak bertempat, dan sepenuhnya berbeda dengan makhlukNya karena Allah Ta’ala sama sekali tidak sama dengan makhlukNya.

Maknanya: “Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu” (H.R. Muslim dan lainnya).

Al Imam Abu Hanifah dalam kitabnya al Fiqh al Absath berkata:

“Allah ta’ala ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada tempat, Dia ada sebelum menciptakan makhluk, Dia ada dan belum ada tempat, makhluk dan sesuatu dan Dia pencipta segala sesuatu”.

Selanjutnya dalam Kitab Risalah Aqidah iIbn ‘Asakir menjelaskan:

“Allah ada sebelum ciptaan, tidak ada bagi-Nya sebelum dan sesudah, atas dan bawah, kanan dan kiri, depan dan belakang, keseluruhan dan bagian-bagian, tidak boleh dikatakan “Kapan ada-Nya ?”, “Di mana Dia ?” atau “Bagaimana Dia ?”, Dia ada tanpa tempat”.

Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah.

Allah hanya Allah Sendiri Yang Tahu. Jika tidak mau men-takwil ayat-ayat Mutasyabihat, maka biarlah makna sebenarnya dipulangkan hanya kepada Allah Ta’ala saja. Kita mengimani kekuasaan dan keberadaan Allah Ta’ala sebagai Tuhan sekalian alam dan berkuasa atas segala sesuatu tanpa terkecuali.

Maka jika seorang Muslim bertanya dimanakah Allah? Allah menjawabnya langsung:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖفَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Artinya:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186)

Allahu A’lam Bishawab.

Tinggalkan komentar