Diskusi Saya Dengan Ustadz Salafi Mengenai Memberi Makan Pelayat

Ini mengenai pengalaman saya setahun lalu saat acara buka Puasa 2018, saat itu saya berdiskusi mengenai memberi makan para pelayat saat anggota keluarga meninggal dengan beberapa teman yang kebetulan bermanhaj Salafi.

Saat itu saya dihadapkan suatu diskusi mengenai “bagaimana status hukum memberi jamuan kepada pelayat ketika anggota keluarga meninggal?”

Di kalangan teman-teman Salafi, saya yang memang dikenal sebagai warga N.U tradisional (Banyak mengamalkan amalan lazim NU, bukan NU struktural), dipaksa penasaran untuk membahas topik ini karena celoteh jahil seorang temen. Di sana ada seorang yang dianggap ustadz yang kebetulan saat itu saya baru kenal.

Awal diskusi dimulai secara tidak sengaja disaat saya tiba pada acara buka puasa, kebetulan saya telat, ketika saya tiba semua sudah berbuka, jadi hanya saya yang makan. Teman saya mengatakan, ini Yusuf NU nih, senang gelar makan-makan bahkan di hari kematian keluarga mereka makan-makan, sambil nyengir. Kemudian saya menanggapi teman saya, bukankah itu baik?

Serta-merta setelah itu saya langsung sodorkan pertanyaan kepada si ustadz yang usianya muda itu (Sebaya saya), bagaimana ustadz hukum Islam memberi makan pelayat saat anggota keluarga wafat?” “Seperti saat ayah saya wafat, para pelayat kami beri makan,” saya tambahkan.

Apakah memberi makan pelayat adalah dosa besar?

Memang saya sengaja memberi pertanyaan langsung dan blak-blakan ingin tahu sampai dimana “kearifan” si Ustadz, ternyata seperti dugaan saya bahwa dia tidak bijak. Dia menjawab, memberi makan pelayat tidak pernah ada contohnya dan perkara yang memberatkan orang yang ditimpa musibah.

Saya kembali bertanya, jika begitu maka hukumnya…Haram? Si Ustadz menjawab dengan tegas: “tentu ya akhiy”.

Langsung saya sambut dengan cepat, saya katakan begini Ustadz, ini teman (Saya tunjuk teman saya yang tadi) yang sudah saya kenal lama, dulu sering ke rumah. Terus terang ustadz, bergaul sama dia amat sedikit manfaatnya, besar ruginya (Sambil saya melirik dirinya yang tersentak sambil kembali nyengir).

Namun setiap kali dia datang ke rumah, saya temani, saya suguhi makanan dan minuman, meskipun selama perbincangan amat sedikit manfaat saya bisa ambil, banyak kerugian (jengkel, kesel, karena orang ini memang suka bikin kesel) yang saya dapati. Namun tetap saya hargai dia, menemani dia ngobrol di rumah, menyediakan makanan dan minuman untuk di santap.

Nah ustadz, orang seperti ini (Lagi-lagi saya tunjuk dirinya) saya hargai, dengan luangkan waktu, tenaga, memberinya hidangan, padahal sedikit manfaat besar kerugian, masakan orang yang datang kerumah saya untuk melayat dimana dia luangkan waktu disaat sibuknya kemudian datang menghibur saya, mendoakan ayah saya, ikut antar jenazah hingga menguburnya, memberi makan mereka adalah haram? Dan karenanya saya berdosa?

Kedua mata saya arahkan ke si Ustadz, dia seperti bergetar dan narik nafas menjawab: “Jika seperti yang antum gambarkan tentu memberi makan bukan hal haram. Namun hal itu memberatkan keluarga yang berduka.”

Tinggalkan komentar