Hanya Karena Tidak Berhijab, Bolehkan Menuduhnya Berzina?

Saya kenal seorang gadis yang solehah namun tidak mengenakan jilbab, ini satu-satunya kesalahannya, namun tentu Allah Ta’ala tahu bahwa gadis ini memiliki karakter yang baik dan berbudi, dan ia shalat secara rutin dan menghafal Al Qur’an bahkan juga menghafal banyak Hadits, dan ia juga sering berpuasa bahkan mengerjakan shalat Sunnah.

Saya telah berkali-kali menasihatinya untuk mengenakan hijab, namun ia belum dapat diyakini. Gadis ini tumbuh di lingkungan Eropa, sehingga ia terbiasa dengan situasi seperti ini.

Yang menjadi masalah adalah sebagian orang—Semoga Allah mengampuni mereka—menghujat gadis ini dengan ucapan-ucapan mengerikan, mengatakan bahwa gadis ini pezinah dan tidak bermoral, hal ini membuat saya gila. Memang gadis ini tidak mengenakan hijab, namun apakah orang-orang ini berhak menuduhnya didepan saya, disaat mereka tidak menyaksikan perzinahan dengan mata mereka?

Ketika saya membela si gadis dan menasehati mereka agar takut kepada Allah Ta’ala, untuk tidak menuduhnya melakukan zinah dan seterusnya, dan saya katakan kepada mereka bahwa memfitnah seorang wanita muslimah yang baik merupakan salah satu dari tujuh dosa besar yang membinasakan, mereka mengejek diriku dan mengatakan bahwa “seorang wanita yang baik, akan tinggal dirumah suaminya dan mengenakan hijab sebagaimana diatur dalam Islam!”  Mereka bahkan menyumpahi si gadis dengan mengatakan “Semoga Allah menjadikannya sebagai penghuni Neraka.”

Apakah anda memiliki hak untuk menuduh gadis ini dengan tuduhan buruk itu dan mendoakan agar dirinya masuk neraka?

Jawaban

Segala puja-puji hanya kepada Allah

Pertama-tama:

Tidak diragukan lagi bahwa tidak mengenakan hijab merupakan dosa besar, namun bukan berarti diizinkan bagi siapapun untuk mengatakan bahwa mereka yang tidak mengenakan hijab merupakan penghuni neraka.

Begitupun tidak dibolehkan berdoa yang buruk kepada si gadis, dan menjatuhkan martabat dan menghujatnya. Jauh lebih baik adalah dengan mendoakannya agar dia mendapat petunjuk kepada jalan yang benar.

Al-Bukhaari (6443) dan Muslim (94) meriwayatkan dari Abu Dharr (Radiyallahu Anhu) dari Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sahbihi Wa Sallam) bahwa Jibril (Alaihi Sallam) mengatakan kepadanya (S.A.W): “Sampaikan kabar gembira kepada umatmu, bahwa barangsiapa yang wafat tanpa menyekutukan Allah akan masuk Surga.” “Aku katakan: “Oh, Jibril, meskipun dia mencuri dan melakukan zina?” Ia menjawab: “Benar.” Saya katakan: “Meskipun ia minum alkohol.”

Dalam pandangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah bahwa Muslim yang wafat membawa dosa besar seperti zina, memfitnah atau mencuri sepenuhnya tunduk kepada keputusan dan kehendak Allah, jika Allah berkehendak, maka akan diampuni, dan jika Allah berkehendak, maka akan dihukum lah dirinya atas dosa besar yang dilakukannya ketika ia wafat, namun yang pasti tujuan akhirnya adalah Sorga, karena Allah, berfirman “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”[An Nisa 4:48].

Ada pula sejumlah Hadits Mutawatir yang mengindikasikan bahwa pendosa yang tetap meyakini keesaan Allah akan dikeluarkan dari Api neraka.

Abu Dawood (4906) meriwayatkan dari Samurah ibn Jundub bahwa Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam) mengatakan: “Jangan memohonkan keburukan dari Allah kepada sesama, atau murka Allah, atau Neraka.”

Dalam ‘Awn al-Ma‘bood:

“Jangan mendoakan keburukan dari Allah kepada sesama” berarti: jangan melaknat / menyumpahi sesama, maka jangan katakan kepada seorang Muslim: Contohnya: “Semoga laknat Allah menyertaimu”

“Atau murka Allah”, dengan mengatakan: Semoga murka Allah selalu menyertaimu.

“Atau Neraka”, dengan mengatakan: “Semoga Allah melemparmu ke dalam api neraka”. Secara spesifik adalah dilarang melaknat kepada individu.

Lalu bagaimana dengan melaknat secara umum, contohnya semoga laknat Allah jatuh kepada orang-orang zalim, maka hal ini tidak dilarang atau juga orang-orang yang memang sudah jelas kekafirannya seperti Firaun, Abu Jahal, Abu Lahab dan lainnya.

Kedua:

Tidak dibenarkan bagi seorang Muslim menuduh Muslim pria dan wanita dengan tuduhan zina tanpa bukti seperti yang diatur dalam Syariat, yakni empat saksi dengan karakter baik, atau sebuah pengakuan dari pelakunya, atau kehamilan pada si wanita yang belum memiliki seorang suami.

Barangsiapa yang menuduh zina kepada seorang Muslim tanpa bukti seperti diatas maka telah melakukan dosa besar dan patut dihukum Hadd karena fitnah, yakni 80 kali cambuk di punggung, dan kesaksiannya tidak akan diterima sampai kapanpun, dan tidak akan dianggap sebagai karakter yang baik, dan akan dikategorikan sebagai seorang yang fasik.

Dan mengenai perkataan teman-teman anda yang mengatakan “Wanita baik-baik adalah berada di rumah suaminya dan mengenakan hijab seperti yang disyariatkan Islam”, untuk hal ini dapat kita melihat sebuah ayat Al Qur’an dimana Allah menjelaskan: “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar,” [An Nur 24:24] yakni setiap wanita Muslimah yang baik yang menjauhkan dirinya dari zina dan tidak terbukti melakukan zina.

Dalam hal ini At-Tabari (Radiyallahu Anhu) menjelaskan:

Wanita baik-baik yang menjaga dirinya merupakan mereka yang menjauhkan dirinya dari perbuatan-perbuatan memalukan dan merupakan orang-orang beriman dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya.

Kutipan dari Tafsir at-Tabari (19/138).

Tidak diperbolehkan untuk menghujat dan memfitnah setiap Muslimah yang tidak terbukti melakukan perbuatan zina, meskipun dirinya tidak mengenakan hijab.

Dalam al-Mawsoo‘ah al-Fiqhiyyah (2/227):

Pribadi yang baik (pria atau wanita) maka penuduhnya dikenakan sanksi hukuman hadd.

Imam Ahmad menjelaskan:

Seseorang dianggap baik jika ia menjauhkan diri/menjaga dirinya dari zina. Maka jikalau seorang belum (tidak) terbukti melakukan zina, dan tidak ada pula bukti dan pengakuan, maka ia bebas dari hukuman hadd untuk kasus zina, maka orang tersebut dianggap baik-baik.

Maka dalam kasus si gadis, jikalau ia tidak terbukti melakukan zina, maka ia tergolong wanita baik-baik menurut aturan Syariah, dan mereka yang menuduhnya tanpa bukti dikenakan hukum Hadd.

Sedangkan untuk urusan ia tidak mengenakan hijab maka tidak membatalkan dirinya masuk kategori sebagai wanita baik-baik.

Terlebih lagi seperti yang anda jelaskan, bahwa si gadis melakukan shalat secara rutin dan melakukan perbuatan-perbuatan baik, bahkan menghafal Qur’an dan Hadits.

Maka Insya Allah kecil kemungkinan dirinya melakukan perbuataan mungkar, karena perbuatannya itu Insya Allah akan menjauhkan dirinya dari melakukan dosa, dan kita berharap agar Allah Ta’ala selalu membimbingnya dan kita kejalan yang lurus dan Allah Ridhoi.

Tinggalkan komentar