Hati-Hati Meninggalkan Shalat Bisa Kafir!

Pertanyaan: Jikalau anda tidak Shalat karena lagi malas, maka apakah kita telah kafir atau sebagai Muslim yang buruk. Harap dijawab.

Segala Puji Hanya Bagi Allah Azza Wa Jalla

Imam Ahmad menjelaskan bahwa barangsiapa yang tidak mengerjakan atau meninggalkan Shalat karena malas adalah seorang Kafir. Dan ini merupakan pandangan yang benar dan didukung oleh bukti dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, dan perkataan para Salaf dan pemahaman yang benar.  (Al-Sharh al-Mumti’ ‘ala Zaad al-Mustanqi’, 2/26).

Penjelasan Al Qur’an bahwa meninggalkan Shalat adalah Kafir

Siapapun yang mempelajari teks Al Qur’an dan Sunnah akan mendapati bahwa mereka yang meninggalkan Shalat adalah Kafir Akbar, yang akan menempatkan dirinya keluar dari Islam.

Diantara sejumlah bukti yang ditemukan dalam Al Qur’an adalah sebagai berikut.

Baca ayatnya berikut ini:

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ ۗ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui”. [Qs At-Taubah 9:11].

Bukti yang berasal dari ayat ini bahwa Allah menetapkan tiga hal yang harus dilakukan Musyrik agar menghilangkan perbedaan dirinya dengan kita (Umat Islam): 1. Mereka harus bertaubat dari Syirik, 2. Mereka harus mendirikan Shalat, dan 3. Mereka harus menunaikan Zakat.

Maka jika mereka sudah bertaubat dari Syirik namun tidak Shalat dan tidak membayar Zakat, maka mereka bukan saudara seiman. Jika mereka sudah bertaubat dari Syirik dan mengerjakan Shalat namun tidak menunaikan Zakat, mereka juga bukan saudara seiman.

Persaudaraan dalam Islam tidak dapat dihapuskan kecuali jika seseorang keluar dari Islam sepenuhnya, ia tidak dapat dihapuskan karena kefasikan dan atau melakukan kekafiran lebih ringan.

Allah berfirman:

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا ۞ فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui al ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” [Qs.Maryam 19:59-60].

Bukti yang berasal dari ayat ini adalah Allah menjelaskan mengenai mereka yang meninggalkan Shalat dan mengikuti hawa nafsunya. Kecuali mereka yang bertaubat, beriman, dan beramal saleh. Hal ini mengindikasikan bahwa ada masa dimana mereka menyia-nyiakan Shalat dan mengikuti hawa nafsunya, mereka bukanlah orang beriman.

Dan Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhuma memberi penjelasan mengenai kata ‘ghoyya’  dalam Surat Maryam ayat diatas ini yakni sungai di neraka Jahanam yang makanannya amatlah menjijikan, dan amatlah dalam tempatnya. (Ash Sholah, hal. 31)

Disini kita mendapat gambaran jelas bahwa Allah telah menetapkan tempat ini, yakni sungai di Jahanam, sebagai tempat bagi mereka yang meninggalkan Shalat dan mengikuti hawa nafsu. Maka jikalau menyia-nyiakan Shalat adalah dosa biasa, tentu saja akan ditempatkan di neraka paling atas, yang merupakan tempat bagi orang-orang Muslim yang berdosa. Namun tempat ini yaitu Ghoyya adalah neraka terbawah, maka ini bukanlah tempat untuk orang Muslim, hanya bagi mereka yang kafir. Jadi orang yang meninggalkan Shalat adalah kafir.

Perkataan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam menjelaskan orang yang meninggalkan Shalat adalah Kafir

Bukti dari Sunnah menjelaskan bahwa mereka yang meninggalkan Shalat adalah Kafir, hal ini tertuang dalam Hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sahbihi Wa Sallam:

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat”. (HR. Muslim no. 257).

Diriwayatkan oleh Buraydah Ibnu Al-Husayb Radhiyallahu Anhu berkata: “Aku mendengar Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Sallam) bersabda:

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan Shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574).

Yang dimaksud Kafir disini adalah jenis kafir yang menempatkan pelakunya keluar dari Islam, karena Nabi Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sahbihi Wa Sallam menjadikan Shalat sebagai garis pemisah antara orang beriman dan orang kafir. Karena masyarakat Kafir tidaklah sama dengan masyarakat Islam, maka barangsiapa yang tidak menunaikan perjanjian ini maka mereka tergolong orang-orang kafir.

Adapula sebuah hadits dari Awf Ibnu Maalik Radhiyallahu Anhu, dimana menurutnya Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Pemimpin terburuk adalah mereka yang kamu cintai dan yang mencintaimu, yang mendoakanmu dan kamu mendoakan mereka. Pemimpin yang buruk adalah yang kamu benci dan membencimu, dan kamu mengutuknya dan mereka mengutukmu”. Rasulullah ditanya, “Oh Rasulullah, haruskah kami memeranginya dengan pedang?”. Rasulullah menjawab, “Jangan, sejauh mereka mendirikan Shalat bersamamu”.

Hadits ini mengindikasikan bahwa para pemimpin harus diperangi dan dilawan jikalau mereka tidak mendirikan Shalat, namun kita tidak diizinkan untuk memerangi dan melawannya kecuali para pemimpin itu menunjukkan kekafiran yang nyata dan kita memiliki bukti dari Allah bahwa perbuatan mereka adalah memang benar-benar suatu kekafiran.

Ubaadah Ibnu Al- Saamit Radyallahu Anhu berkata: “Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Sallam) memanggil kami dan kami memberikan baiat (Janji setia) kepadanya. Diantara hal yang kami berjanji untuk melakukannya adalah mendengar dan taat kepadanya baik disaat bersemangat dan saat sungkan untuk bertindak, baik disaat susah dan mudah, dan kami tidak akan melawan pemerintah. Rasulullah bersabda: “Kecuali mereka menunjukkan kekafiran yang nyata dan kalian memiliki bukti dari Allah bahwa yang mereka lakukan memanglah kekafiran”.

Kesepakatan ulama menyatakan bahwa yang dimaksud kekafiran yang nyata adalah meninggalkan Shalat. Jika begitu maka kita dibolehkan untuk melawan dan memerangi si pemimpin dengan pedang, sebagai tanggapan terhadap tindakan kekafiran yang nyata itulah bukti dari Allah Azza Wa Jalla akan kekafiran dirinya.

Perkataan para Sahabat Nabi bahwa kafirlah orang yang meninggalkan Shalat

Sahabat Umar bin Khottob Radhiyallahu Anhu menjelaskan.

لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ

Tidaklah disebut muslim bagi orang yang meninggalkan shalat.”

Ketika Umar ibn Khattab mengutarakan perkataan ini ketika menjelang ajalnya, dan seluruh sahabat yang hadir saat itu tidak ada yang membantahnya. Dari sinilah semakin memperkuat bahwa meninggalkan Shalat adalah Kafir berdasarkan kesepakatan para Sahabat.

Dan umumnya para sahabat menilai bahwa mereka yang meninggalkan Shalat adalah kafir seperti yang dijelaskan oleh seorang Tabi’in, Abdullah bin Syaqiq, sebagai berikut.

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ

Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.” Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy seorang tabi’in dan Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. (Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52).

Dan Ibnul Qayyim menyatakan bahwa tidaklah seseorang merasa malu dengan mengingkari pendapat kafirnya orang yang meninggalkan Shalat, padahal telah jelas diberitakan oleh Al Kitab (Al Qur’an), As Sunnah dan pula kesepakatan para Sahabat. Wallahul Muwaffiq (Hanya Allah-lah yang memberi taufik).” (Ash Sholah, hal. 56).

Sedangkan mengenai orang yang kadang Shalat dan kadang tidak, maka ia telah melakukan dosa yang amat besar, bahkan dikatakan jika sekali meninggalkan Shalat saja maka dosanya lebih besar dari Zina, dosa membunuh, dan dosa minum khomar.

Apabila kita telah sepenuhnya faham betapa besar dosa yang akan didapat jika meninggalkan Shalat, bahkan menjadikannya kafir, maka apakah masih ada alasan bagi kita untuk meninggalkannya?

Oleh karenanya saudara dan saudari seiman dalam Islam janganlah kita meninggalkan Shalat, karena itu adalah tiang agama, jika tiangnya tidak kita dirikan maka runtuhlah keIslaman di diri kita, dan meninggalkan Shalat adalah kekafiran sebagai garis pemisah antara kita dan mereka yang tidak beriman. Sejak sekarang jadikan Shalat sebagai kebutuhan bukan sebatas kewajiban yang mengikat yang membuat kita berat melakukannya.

Silahkan baca artikel saya yang berjudul Shalat Fardhu dimana didalamnya anda akan temui tuntunan masing-masing Shalat, dari Shalat Subuh hingga Shalat Isya’. Selain itu tambah pula ibadah anda dengan Shalat Sunnah dimana anda akan temui pula kumpulan Shalat Sunnah sesuai Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam tercinta.

Semoga kita dijauhkan dari kekafiran dan selalu selamat dan beruntung baik di dunia ini dan di akhirat, silahkan beritahukan kepada keluarga, teman, saudara dan kerabat mengenai artikel ini siapa tahu mereka membutuhkannya. Dan sampai jumpa lagi di artikel-artikel Dakwah Islam dari AiTarus.Com berikutnya di masa depan terima kasih.

Tinggalkan komentar