Advertisements

Hawa Nafsu: Cara Menaklukkannya Menurut Perspektif Sufisme

Aitarus.com — Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan manusia dan memperlengkapinya dengan berbagai kemampuan sehingga manusia dapat bertahan hidup di dunia ini dan membuka jalannya untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak.

Di antara kemampuan yang diberikan kepada manusia adalah apa yang Al-Qur’an maksudkan dengan al-nafs. Ada definisi berbeda yang diberikan oleh para ulama tentang nafsu, tetapi penjelasan mereka mirip satu sama lain.

Beberapa dari mereka mendefinisikan nafsu sebagai “diri”, sementara yang lain mendefinisikannya sebagai hasrat dan keinginan manusia atau ego.

Kata ini disebutkan dalam banyak ayat di seluruh Al Qur’an. Dalam Al Qur’an disebutkan, “dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” [Qs. 91:7-10].

Setelah mengakui fakta bahwa nafsu dapat menyebabkan kerugian bagi manusia dan menjadi ancaman bagi akhiratnya, menjadi penting untuk tidak hanya memiliki pengetahuan tentang bagaimana mencegah dari penipuan nafsu, tetapi juga untuk memahami cara kerjanya.

Ini bukan tugas yang mudah karena mengharuskan seseorang untuk berurusan dengan diri batiniah dan bukan fisiknya. Dengan kata lain, ini adalah perjuangan spiritual dan bukan yang materialistis.

Seluruh perjuangan mengendalikan nafsu harus membuat orang menyadari bahwa ini bukan tentang Anda, tetapi ini tentang Allah, Allah Yang Mahakuasa. Kesadaran ini menjadi efektif ketika seseorang menaklukan nafsu, yang menyebabkan tidak ada yang lain selain Allah dalam semua tindakan.

Seringkali orang memperhatikan dengan seksama dalam mencegah tubuh mereka dari sakit tetapi mengabaikan jiwa mereka dari jatuh karena keinginan negatif dan berlebihan memuaskan nafsu mereka sendiri ( shahawāt ).

Allah memperingatkan Nabi Daud Alaihissalam dalam Al-Qur’an dengan menyebutkan:

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” [Qs Sad (38):26].

Di antara sifat-sifat paling yang membedakan manusia dari makhluk lain, adalah kemampuan untuk berjuang dengan batin, nafsu. Perjuangan ini dihargai oleh Allah Azza Wajalla dengan keberhasilan di dunia ini dan di akhirat. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman).” [Surat Al-A’la Ayat 14].

Dalam buku terkenal Al-Risālah al-Qusyairiyyah, yang ditulis oleh Abū al-Qāsim al-Qusyairi (dh 464, 1072), ketika menyebutkan tentang al-nafs, penulis menyatakan dua kategori utama dari jiwa manusia di mana kekurangan berada. Yang pertama adalah kategori dosa dan tindakan ketidaktaatan, diperoleh oleh diri sendiri.

Adapun yang kedua, Qusyairi menyebutkan kategori moral dasar seseorang. Ini termasuk moral yang buruk seperti kesombongan, iri hati, murka, dendam, temperamen buruk, kurangnya toleransi dan sifat-sifat karakter yang serupa. [4]

Qusyairi juga menyebutkan karakteristik jiwa ( al-nafs ) yang paling sulit dan tidak dapat diterima adalah bahwa ia membayangkan bahwa ada sesuatu yang baik tentangnya dan bahwa ia patut dihormati. Penulis memasukkan ini sebagai tindakan politeisme. [5]

Karakteristik ini menyebabkan banyak orang tersesat. Beberapa orang, karena mereka memiliki kekayaan atau status yang lebih tinggi, menuntut rasa hormat dari orang lain. Kecenderungan jiwa ini adalah sifat Setan dan itu adalah sumber dari banyak sifat negatif lainnya.

Disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa ketika Yusuf Alaihissalam berbicara tentang nafsunya, ia berkata, “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [6].

Memperhatikan diri Anda (mu ḥāsabah)

Sering mempertimbangkan diri sendiri ( mu ḥāsabah ) sangat ditekankan dalam Islam. Pemimpin orang-orang beriman c Umar al-Khaṭṭāb Radhiyallahu Anhu (dh 23, 644) telah menyebutkan, “Pertimbangkanlah dirimu sebelum kamu dimintai pertanggungjawaban” [7].

Tinggalkan komentar