Advertisements

Hikmah Dan Manfaat Menikah Menurut Al Qur’an & Hadits

Aitarus.com — Ayat-ayat seputar pernikahan ini khusus saya bagikan guna menyadarkan bahkan memotivasi kaum Muslimin atau Muslimah yang kini merasa sudah “nyaman” hidup sendiri, sehingga merasa tidak perlu menikah.

Tapi tunggu dulu! Anda harus tahu apabila anda sudah memenuhi syarat untuk menikah, maka sebaiknya menikah karena ini adalah Sunnah Nabi kita. Dengan pahala dan kebaikan yang tak terhingga jumlahnya.

Karena Allah menciptakan Adam Alaihissalam kemudian memberikan dirinya teman, Hawa sebagai istrinya, guna memenuhi bumi dengan keturunan.

Selain itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyerukan umatnya untuk menikah, agar nantinya beliau dapat membanggakan jumlahnya dan melarang kehidupan selibasi (membujang).

تَزَوَّجُوْا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اْلأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَـامَةِ، وَلاَ تَكُوْنُوْا كَرَهْبَانِيَّةِ النَّصَارَى.

“Menikahlah, karena sesungguhnya aku akan membangga-banggakan jumlah kalian kepada umat-umat lain pada hari Kiamat, dan janganlah kalian seperti para pendeta Nasrani.” [HR. Al-Baihaqi (VII/78)].

Lalu kenapa harus menikah? Ini penjelasan Quran dan Hadits mengenai Nikah

Tentu sebaik-baik penjelasan adalah dari Al Quran dan juga Hadits perihal melakukan sebuah tindakan, termasuk menikah. Kita langsung merujuk hikmah apa yang didapat jika menikah.

1. Menikah akan menyempurnakan agama

Salah satu dari sekian hikmah yang didapat dari menikah ialah menyempurnakan agama seseorang, sehingga kehidupannya sebagai Muslim/Muslimah menjadi sempurna.

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ، فَقَدِ اسْـتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْـنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْمَـا بَقِيَ.

“Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa.” [Hasan Syaikh al-Albani di kitab ash-Shahihah no. 625].

2. Termasuk kedalam golongan ditolong Allah

Allah akan menolong mereka yang menikah demi memelihara kesucian mereka.

ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُمْ: اَلْمُكَـاتَبُ الَّذِي يُرِيْدُ اْلأَدَاءَ، وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيْدُ الْعَفَافَ، وَالْمُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ.

“Ada tiga golongan yang pasti akan ditolong oleh Allah; seorang budak yang ingin menebus dirinya dengan mencicil kepada tuannya, orang yang menikah karena ingin memelihara kesucian, dan pejuang di jalan Allah.”[HR. At-Tirmidzi (no. 1352) kitab an-Nikaah

3. Allah akan memampukan mereka yang menikah

Jika anda merasa tidak mampu secara finansial, maka Allah menjamin akan memampukan anda.

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” [QS. An Nur: 32].

4. Menikah termasuk sebagai Sunnah para Rasul

Apabila kita mengaku Muslim dan Muslimah tentu mengikuti sunnah para Rasul adalah hal utama kita ingin lakukan.

أَرْبَعٌ مِنْ سُـنَنِ الْمُرْسَلِيْنَ: اَلْحَيَـاءُ، وَالتَّعَطُّرُ، وَالسِّوَاكُ، وَالنِّكَاحُ.

“Ada empat perkara yang termasuk Sunnah para Rasul: rasa-malu, memakai wewangian, bersiwak, dan menikah.” [HR. At-Tirmidzi (no. 1086) dalam kitab an-Nikaah].

5. Yang tidak menikah bukan golongan Rasulullah

“Menikah adalah sunnahku, barangsiapa tidak mengamalkan sunnahku berarti bukan dari golonganku. Hendaklah kalian menikah, sungguh dengan jumlah kalian aku akan berbanyak-banyakkan umat. Siapa memiliki kemampuan harta hendaklah menikah, dan siapa yang tidak hendaknya berpuasa, karena puasa itu merupakan tameng.”

Bayangkan jika kelak di padang mahsyar disaat kita berharap mendapat syafaat dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, akan tetapi kita tidak diakui sebagai golongannya dikarenakan tidak melakukan sunnahnya. Tentu kita akan merasa amat merugi dan nestapa.

6. Nikah dapat melindungi orang dari jangkauan zinah

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَـرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَـرْجِ. وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; sebab puasa dapat menekan syahwatnya.” [HR. Al-Bukhari (no. 5066) kitab an-Nikaah].

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَحَاسِنِ امْرَأَةٍ فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ، فَإِنَّمَا مَعَهَا مَا مَعَهَا.

“Jika salah seorang dari kalian melihat kecantikan wanita,
maka hendaklah ia mendatangi (menggauli) isterinya. Sebab, apa yang dimilikinya sama dengan yang dimiliki isterinya.”
[at-Tirmidzi (no. 1158) kitab an-Nikaah].

Zinah adalah perbuatan munkar dan berbahaya, Al Qur’an memerintahkan agar jangan mendekatinya [QS.Al Israa. 32], jikalau orang tidak menikah maka pada hakikatnya ia sedang “mendekati” zinah secara tidak disadari dan diniatkan, karena secara psikologis manusia normal memiliki kebutuhan biologis, makanya jika tidak menikah ia akan terus menahan kebutuhan itu dimana ada kecenderungan ia tidak akan mampu menahannya, sehingga ia “terpaksa” melakukan zinah.

7. Untuk memiliki keturunan

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Rabb-ku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a.” [Ali ‘Imran/3: 38].

Sebagai umatnya nabi memiliki keturunan adalah hal yang amat disenangi olehnya, karena ada hadits yang sudah saya sebutkan sebelumnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyeru agar umatnya memiliki keturunan dan menjauhi kehidupan membujang.

8. Hubungan intim merupakan sedekah

…وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ، أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ.

“… Seseorang di antara kalian bersetubuh dengan isterinya adalah sedekah!” (Mendengar sabda Rasulullah, para Shahabat keheranan) lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kita melampiaskan syahwatnya terhadap isterinya akan mendapat pahala?” Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Bagaimana menurut kalian jika ia (seorang suami) bersetubuh dengan selain isterinya, bukankah ia berdosa? Begitu pula jika ia bersetubuh dengan isterinya (di tempat yang halal), dia akan memperoleh pahala.” [Shahih Muslim, no. 1006, al-Bukhari di al-Adaabul Mufrad, no. 227].