Hikmah Memperingati Maulid Nabi

Kenapa umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad? Apakah ini sebagai bid’ah yang menambah Syariat Islam, dan tidak pernah diajarkan oleh Nabi sehingga membawa pelakunya kepada kesesatan yang nyata? Untuk menjawab hal itu maka silahkan kita membaca hikmah dibalik memperingati Maulid Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam untuk memperluas cara pandang kita semua Aaamiiin Allahuma Aaaamiiin.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala ALihi Wa Sahbihi Wa Sallam, adalah Rasulullah terakhir. Agama Islam telah disempurnakan melalui dakwah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Al Qur’an Al Karim merupakan kitab suci terakhir yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Rasulullah terakhir yaitu Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam merupakan pria yang amat dapat dipercaya, jujur dan rahmat bagi seluruh manusia.

Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam lahir di Mekkah pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun 571 M. Rabiul Awal merupakan bulan ketiga dalam penanggalan Islam Hijriah yang merupakan bulan amat penting dikarenakan pada bulan ini seluruh umat manusia dihadiahi dengan kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Muslim di seluruh dunia memperingati Maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal. Selain sebagai bulan kelahiran Nabi, terdapat pula peristiwa penting yang terjadi yakni Hijrah terjadi pada bulan ini dan juga pembangunan Masjid pertama dalam Islam, yakni Masjid Quba juga pada bulan Rabiul Awal. Dan juga Shalat Jum’at pertama dilaksanakan pada bulan ini.

Umat Muslim di sejumlah negara merayakan Maulid dengan mendekorasi jalan, masjid, mushola dan area pemukiman dengan cahaya yang berwarna-warni pada Maulid Nabi. Makanan, manisan dan kuliner lainnya di bagikan di antara sesama Muslim saat Maulid.

Maulid Nabi merupakan hari untuk mengingat ajaran dan kebaikan dari Nabi dan umat Islam menganggap pada hari kelahirannya sebagai hari untuk menunjukkan kecintaan dan ketaatan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Ini merupakan hari amat penting bagi setiap Muslim karenanya mereka melakukan Shalat dan berpartisipasi dalam kegiatan ibadah lainnya.

Baca juga dalil Al Qur’an untuk melaksanakan Maulid.

Pesan damai, cinta, ampunan, pengorbanan, dialog, keragaman, martabat manusia dan hidup berdampingan merupakan pesan-pesan paling penting yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sahbihi Wa Sallam. Maulid Nabi mengingatkan kita akan pesan-pesan Nabi Muhammad ini.

Pada aktivitas Maulid Nabi, umat Islam berkumpul guna mendengar Sira (Hidup) dari Nabi Muhammad dan membagikan makanan kepada sesama dan menghadirkan kebahagian di antara umat. Tujuan utama dari peringatan Maulid Nabi atau berkumpul saat itu sebagai cara efektif dan efisien untuk memanggil kembali manusia kepada Islam dan mendidik anak-anak mengenai ajaran Nabi. Sekaligus mengingatkan seluruh bangsa mengenai karakter mulia Nabi Muhammad, dan caranya beribadah dan caranya memperlakukan sesama manusia.

Allah Azza Wa Jalla berfirman dalam Al Qur’an:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Quran, 3:31).

Dari ayat Al Qur’an Al Karim ini, kita mendapati informasi bahwa Allah Ta’ala meminta Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam untuk mengingatkan kaumnya bahwa adalah penting bagi mereka yang mengaku mencintai Allah, untuk pula mencintai Nabi-Nya. Kita seharusnya mengirimkan Shalawat kepada Nabi.

Semoga Allah selalu membimbing kita untuk selalu dijalan yang benar dan teguh dalam mengikuti Sunnah dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Baca juga pembagian Tauhid.

Akhirul Kalam

Maulid Nabi merupakan peringatan akan kelahiran pembawa risalah terakhir Allah kepada manusia, dimana pada Maulid umat Islam berkumpul untuk berbagai pengetahuan agama (Tausiyah), membaca kitab-kitab Sirah, membaca pujian, berbagi makanan dan pula saling mengenal. Ini adalah momentum yang dijadikan kesempatan dakwah oleh para ulama dan bukan perkara bid’ah sesat yang membawa pelakunya kepada neraka, namun media dakwah untuk menyegarkan kembali ingatan dan ghirah umat nabi kepada panutan mereka yakni Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Karena mengajarkan manusia pada saat momentum yang tepat lebih efektif seperti halnya kita mengingatkan perjuangan para pahlawan pada hari kemerdekaan.

Tinggalkan komentar