Najd Di Arab (Riyadh) Bukan Di Irak, Ini Penjelasannya

Najd Di Arab (Riyadh) Bukan Di Irak, Ini Penjelasannya
  • Advertisements

  • Dimanakah letak Najd, apakah berada di Arab Saudi atau di Irak? Ini persoalan yang menjadi perdebatan panjang. Kedua pihak memiliki argumen masing-masing. Lalu dimanakah Najd?

    Najd di Arab (Riyadh) bukan di Irak—Golongan yang menamakan diri Salafi menolak keras jika Najd yang dimaksud sebagai tempat munculnya tanduk syaitan ada di Riyadh, Arab Saudi, menurut mereka Najed ada di Irak.

    Riyadh adalah tempat kelahiran Muhammad Bin Abdul Wahab. Ibnu Abdul Wahab inilah figur yang secara tidak langsung di atributkan sebagai pendiri ajaran Wahabi—mereka yang mengikuti pemahaman Tauhid bin Abdul Wahab menamakan diri sebagai Salafi—ciri Salafi amatlah cocok dengan ciri “seburuk-buruknya makhluk” yang digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang lain.

    Lalu dimanakah Najd, di Riyadh (Arab Saudi) atau Irak?

    Tentu untuk menjawabnya kita merujuk langsung penjelasan Rasulullah SAW dalam haditsnya. Berikut adalah hadits Nabi Muhammad SAW, dalam penjelasan tentang Miqat Haji.

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Amr Al Maushuli yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hasyim Muhammad bin ‘Ali dari Al Mu’afiy dari Aflah bin Humaid dari Qasim dari Aisyah yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dan Mesir di Juhfah, bagi penduduk Iraq di Dzatu ‘Irq, bagi penduduk Najd di Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam (Shahih Sunan Nasa’i no 2656).

    Keterangan:

    Di hadits ini disebutkan bahwa:

    • Miqat penduduk Irak adalah Dzatu ‘Irq.
    • Miqat penduduk Najd di Qarn.

    Lihat bagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam, membedakan Irak dan Najd dari hadits ini untuk memulai Miqat (Tempat/waktu untuk memulai Ihram). Ada satu hal yang menarik bahwa hadits itu menyebutkan Qarn untuk penduduk Najd, Qarn juga bermakna Tanduk.

    Apakah hadits diatas masih kurang jelas? Jika masih kurang juga saya tidak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan kepada anda. Karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam, jelas-jelas menyebut Najd dan Irak secara terpisah.

    Masih ada satu hadits dari Siti Aisyah RA, dimana beliau menjelaskan tentang Miqat penduduk Irak.

    “Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam menjadikan untuk penduduk Iraq Dzatu Irqin sebagai miqat mereka. “ (HR. Abu Daud dan Nasa’i)

    Sebagai tambahan, ada perkataan Ibnu Umar yang menjelaskan bahwa dirinya dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam pernah melakukan perang di Najd.

    Diriwayatkan oleh Ibn ‘Umar: Saya pernah ambil bagian pada Ghazwa ke Najd bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam dan kami bertemu dengan musuh disana (Bukhari).

    Diriwayatkan oleh Sinan dan Abu Salama: Jabir menyebutkan bahwa ia pernah berpartisipasi dalam sebuah Ghazwa ke Najd bersama Rasulullah SAW (Bukhari).

    Seperti kita ketahui, belum pernah ada dalam sejarah Rasulullah SAW melakukan ekspedisi Ghazwa ke Irak selama hidupnya. Namun beliau SAW melakukannya di Najd, yang ada di Saudi Arabia.

    Jadi menurut Hadits letak Najd di Arab—Saudi Arabia—bukan di Irak. Jika masih ngeyel juga yah terserah anda.

    Kenapa Salafi Wahabi Menolak Najd Terletak Di  Saudi Arabia?

    Najd berarti dataran tinggi, dan Najd di Saudi Arabia terletak di Riyadh, daerah tempat lahirnya Muhammad Bin Abdul Wahabi, pencetus pemahaman yang kini dikenal sebagai ajaran Wahabi / Wahabisme.

    Dalam hadits mengenai kemunculan fitnah dari Tanduk Setan, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam menunjuk ke arah timur, saat itu beliau SAW sedang berada di Hijaz, maka arah timur Hijaz adalah menuju pada daerah Uyainah, Riyadh.

    Oleh karenanya jika Najd sebagai tempat munculnya tanduk Syaitan ternyata di Riyadh, Arab, maka akan menjatuhkan kredibilitas sang tokoh utama—Muhammad Bin Abdul Wahab—dan akan mencoreng nama tidak baik golongan Salafi Wahabi.

    Kasus Tanduk Setan ini bisa menggerus kredibilitas ajaran Wahabi yang mereka sedang pasarkan—yaitu kembali ke al-Qur’an dan as-Sunnah versi mereka—jika dibiarkan akan membunuh kepercayaan umat yang mereka target untuk di-salafi-kan.

    Karena bagaimana mungkin kita bisa mempercayai ajaran yang lahir dari orang yang muncul dari wilayah yang sama dengan kemunculan si tanduk setan?

    Alhasil para Salafi Wahabi berusaha sekeras mungkin melindungi Syaikhnya dari atribusi Tanduk Setan, mereka berusaha memelintir fakta bahwa Najd yang dimaksud adalah di kota Kufah, Irak.

    Padahal fakta yang ada berlawanan dengan argumen para Salafi. Dan hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam diatas sudah memberikan penjelasan lugas mengenai perbedaan antara Najd dan Irak.

    Sifat para Salafi Wahabi

    Apalagi fakta dilapangan kita temui tingkah-polah umat Wahabi yang buruk saat bersosialisasi dengan umat Muslim lainnya. Pengikut Wahabi sudah terkenal memiliki karakteristik kental menyerang umat Islam melalui mantra bid’ah, syirik, kurafat, dst.

    Gerombolan Salafi Wahabi yakin hanya mereka saja yang nyunnah sedangkan yang lain ahli bid’ah, syirik dan sesat.

    Namun fakta berkata sebaliknya, mereka yakni para Salafi juga ahli bid’ah.

    Makanya kita sering temui konflik antara umat Islam dan Wahabi, mereka secara tidak langsung menunjukkan diri mereka sebagai pengikut Tanduk Setan yang dalam hadits itu sebagai fitnah.


    Tinggalkan komentar