Advertisements

Para Pembunuh Utsman Adalah Pengikut Dajjal

Enam tahun pertama masa pemerintahan Sayyidina Utsman adalah pemerintahan yang begitu aman dan tentram juga makmur. Karakter Sayyidina Usman yang lembut bertemu dengan kelanjutan kebijakan adil zaman Sayidina Umar merupakan penyebab kenyataan itu.

Saat itu wilayah kaum Muslimin semakin luas hingga sampai ke Syiria, Khurasan, Persia dan Afrika Utara. Jumlah orang-orang yang masuk Islam pun semakin banyak. Sementara itu, perselisihan tentang bacaan Al-Qur’an mulai bermunculan. Bahkan di pusat kekhalifahan sendiri, banyak yang saling menyalahkan karena perbedaan bacaan.

Seperti diriwayatkan oleh Abu Qilabah, Utsman berdiri dan berkhutbah kepada mereka, “Kalian saja yang di sini banyak salah bacaan dan saling berselisih, tentu mereka yang berada di negeri-negeri yang jauh dari kita lebih dahsyat salah dan perselisihannya. Berkumpulah wahai para sahabat Muhammad, dan bukukkan untuk manusia sebuah mushaf, sebagai rujukan!”

Kemudian, Utsman mengutus seorang untuk mengambil lembaran-lembaran Al-Qur’an yang berada di rumah Hafshah, istri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Lalu ia perintahkan kepada Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash, dan Abdurrahman Harits untuk menyusun dan menyalin Mushaf serta mengirimkannya ke berbagai wilayah Islam sebagai patokan.

Enam tahun kedua pemerintahan Sayyidina Utsman merupakan tahun-tahun sulit penuh fitnah. Bahkan fitnah itu melebar hingga ke zaman kita dan sungguh tidak mudah diuraikan oleh masyarakat awam.

Fitnah-fitnah ini sesungguhnya sudah diisyaratkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, beliau menjelaskan kepada Utsman bahwa musibah akan menimpanya. Karena itulah Utsman bersabar dan melarang para sahabat agar tidak memerangi orang-orang yang membangkang kepadanya agar tidak terjadi pertumpahan darah karenanya. Dalam hadits Abu Musa Al-day’ari Radhiyallahu anhu ia berkata.

“Pada suatu hari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam masuk ke sebuah kebun di kota-kota madinah. Lalu datang Utsman. Aku berkata, “Tunggu dulu sampai aku memohon izin (kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam) untukmu.” Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Izinkanlah ia. Berilah kabar kepadanya dengan surga, bersamanya ada musibah yang menimpanya.”

Imam Thabari menyebutkan dalam Tarikh al-Umam wal-Muluk tentang keberadaan penggerak di balik layar fitnah yang ditujukan kepada Utsman. Orang itu adalah Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi dari Yaman yang berkeliling di kota-kota Islam mulai dari Hijaz, Bashrah, Kufah dan Syam untuk menyebarkan fitnah seputar Utsman.

Tetapi dia gagal total. Ketika ia pergi ke Mesir, disanalah fitnah itu mendapat pendukungnya lalu menyebar.

Kelembutan Utsman membuat fitnah begitu mudah merajalela tanpa halangan yang berarti. Berbagai tuduhan menggelinding liar di kota-kota utama Muslimin saat itu. Akhirnya para pemberontak itu pun menuju kota Madinah untuk menurunkan Utsman dari jabatannya.