Advertisements

Pengertian Zakat Penghasilan Dan Cara Menghitungnya

Pengertian zakat penghasilan dan cara menghitungnya.  Zakat merupakan aktivitas ibadah memberikan derma kepada mereka yang memang membutuhkan dan fakir miskin, dan merupakan salah satu dari rukun Islam. Dan Zakat adalah wajib bagi Muslim dewasa yang waras dan mampu.

Orang yang mengeluarkan zakat penghasilan harus memiliki sejumlah harta atau simpanan (setelah pengeluaran untuk keperluan pribadinya). Dan harta miliknya itu mencapai / melewati Nishab.

Lebih jelasnya Nisab adalah jumlah batasan harta seorang Muslim selama setahun (atau setiap kali mendapat penghasilan) yang terhitung sebagai wajib untuk dikeluarkan sebagai zakat.

Dan jumlah Zakat yang harus dibayarkan adalah 2.5% dari jumlah penghasilan yang telah melewati total Nishab.

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. [Al-Quran 9:60]

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya”. [Al-Quran 2:215].

لِلۡفُقَرَآءِ الَّذِيۡنَ اُحۡصِرُوۡا فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ لَا يَسۡتَطِيۡعُوۡنَ ضَرۡبًا فِى الۡاَرۡضِ يَحۡسَبُهُمُ الۡجَاهِلُ اَغۡنِيَآءَ مِنَ التَّعَفُّفِ‌ۚ تَعۡرِفُهُمۡ بِسِيۡمٰهُمۡ‌ۚ لَا يَسۡـــَٔلُوۡنَ النَّاسَ اِلۡحَــافًا ‌ؕ وَمَا تُنۡفِقُوۡا مِنۡ خَيۡرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيۡمٌ‏ ﴿۲۷۳﴾

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui”. [Al-Quran 2:273].

Pengertian Zakat

Apa Itu Zakat? Di bagian ini kita akan membahas pengertian Zakat berdasarkan makna darinya. Secara bahasa Zakat memiliki sejumlah makna yakni.

Zakat berarti At-Thohuru, jika diartikan adalah menyucikan atau membersihkan, dari segi Syar’i maka orang yang membayar zakat karena Allah Ta’ala telah membersihkan dan menyucikan jiwa dan hartanya.

Zakat bermakna Al-Barakatu, jika diartikan adalah dilimpahkan keberkahan oleh Allah, yang akan berakibat kepada keberkahan hidupnya pula.

Zakat berarti An-Numuw, berarti tumbuh dan berkembang. Maka orang yang membayar zakat sejatinya menumbuhkan kembangkan harta yang Allah Ta’ala titipkan kepadanya.

Zakat juga bermakna As-Sholahu, beres, maka orang yang membayar zakat hidupnya akan bahagia dan dijauhkan dari masalah.

Kenapa kita membayar zakat?

Zakat bukanlah sedekah yang sifatnya opsional dan bukan pula pajak, namun kewajiban. Dengan memberi zakat, seorang Muslim sadar bahwa segala yang ia miliki sejatinya adalah kepunyaan Allah dan kita bukanlah pemilik sebenarnya. Dan kita berzakat sebagai salah satu upaya untuk mengingat Allah dan menolong mereka yang membutuhkan. Dan juga membantu membebaskan kita dari buasnya hawa nafsu dan keserakahan, untuk melatih disiplin diri dan kejujuran.

Kapan zakat dibayarkan?

Mengenai kapan zakat dibayarkan, biasanya dilakukan dengan dua cara. Yakni ulama masa sekarang menyetujui untuk mengeluarkan zakat penghasilan setiap kali didapatkan (Contoh per-bulan, atau mingguan jika pendapatannya per-minggu) atau bisa pula dikumpulkan seluruhnya hingga menunggu genap satu tahun lalu dibayarkan zakat penghasilannya (Menunggu haul / tahun).

Pendapat ini bisa merujuk pada Qiyas Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Umar Bin Abdul Aziz dan ulama masa kini seperti Yusuf Qardhawi dimana mereka melakukan Qiyas zakat dengan zakat pertanian yang dibayarkan setiap kali didapatkan. Sedangkan jika membayar zakat menunggu hingga 1 tahun, muncul kekhawatiran terjadi hal-hal tidak diinginkan sebelum zakat tunai dibayarkan.

Maka agar lebih aman sebaiknya langsung membayarkan zakat disaat mendapat penghasilan (Tergantung waktu anda dapatkan).

Dan ada pula sebagian Muslim yang memilih bulan Ramadhan untuk menunaikan zakat karena dibulan suci ini setiap kebaikan dihitung berlipat-ganda dibandingkan bulan-bulan yang lain.

Siapa yang berhak menerima Zakat?

Al Qur’an menunjukkan kepada kita siapa saja yang berhak menerima zakat seperti halnya mereka yang berhak menerima Zakat Fitrah. Dalam Surat At-Taubah (9) ayat 60 yakni:

  1. Fuqara’ (Orang fakir).
  2. Al-Masakin (Miskin yang amat membutuhkan).
  3. Amil zakat (Pengumpul Zakat).
  4. Muallafatul Qulub (Muallaf ( Orang yang baru memeluk Islam) yang miskin dan membutuhkan).
  5. Ar-Riqab (Budak, zakat dapat digunakan untuk membebaskannya / memerdekakannya dari status perbudakan).
  6. Ibnu-Sabil (Musafir yang butuh bantuan finansial).
  7. Al Gharimin (Orang yang terlilit hutang).
  8. Fi Sabilillah (Orang yang jauh dari rumah dalam urusan di jalan Allah Ta’ala).

Bagaimana cara menghitung zakat penghasilan?

Disaat anda telah memiliki harta di atas batasan Nishab maka anda sudah wajib membayar zakat. Dan anda bisa membayar zakat penghasilan setahun sekali (Haul) atau setiap mendapatkan penghasilan.

>>>Terkait: baca dalil Zakat 2.5% berdasarkan Hadits Shahih.

Contoh perhitungan zakat dibayar 1 tahun

Untuk Nishab zakat yang dibayarkan berdasarkan pendapatan yang dikumpulkan selama setahun berdasarkan nilai 85 gram emas dan harga @se-gram emas saat saya menulis artikel ini adalah Rp 238.000.

Maka Nishab-nya adalah harga segram emas 238.000 x 85 gram = Rp. 20.230.000.

Jika penghasilan total yang didapat pak Budi 25.000.000 selama setahun maka artinya sudah melewati Nishab yakni Rp. 20.230.000 maka pak Budi wajib mengeluarkan zakat. Adapun perhitungan zakat yang harus dikeluarkan pak Budi adalah.

25.000.000 x 2.5 % = Rp. 625.000.

Maka yang dikeluarkan pak budi adalah.

Rp. 625.000 / pertahun (Jika dikeluarkannya pertahun).

Rp. 52.084 / perbulan (Jika dikeluarkannya setiap bulan).

Tinggalkan komentar