Advertisements

4 Perbedaan Besar Antara Salaf Dan Salafi Wahabi

Aitarus.com — Perbedaan Salaf dengan Salafi Wahabi. Salafi adalah golongan yang menetapkan sifat-sifat Allah yang datang dari nash al-Quran dan Sunnah sesuai dengan makna zahirnya tanpa menerima takwil.

Padahal ada sebagian dari ayat dan Hadis yang bersifat mutasyabihat sehingga tidak bisa dipahami dengan makna zahirnya.

Para Salaf sendiri dalam menyikapi Ayat dan Hadis mutasyabihat yang menerangkan sifat Allah SWT menerapkan metode tafwidh, yakni menyerahkan maknanya kepada Allah SWT, bukan memaknai secara zahir dan menyerahkan gambarannya kepada Allah SWT seperti yang dilakukan oleh para Salafi.

Terkadang sebagian Salaf memakai metode takwil, yakni memaknai makna zahirnya kepada makna yang bisa dipahami dan sesuai dengan kaidah bahasa Arab.

Baca juga Bid’ah kaum Salafi.

Salafi-Wahabi

Setelah fitnah yang disebabkan oleh kemunculan Ibnu Taimiyah pada abad ke-7 H mulai padam, pada abad ke-12 Hijriah muncul kembali orang yang mengajak kepada ajaran Salaf yang kenyataannya sangat bertolak-belakang dengan ajaran Salaf. Mereka menamai diri mereka Salafi, sedangkan kelompok di luar mereka menamai mereka sebagai Wahabi.

Penggagas ide Salafi di abad ini adalah Muhammad bin Abdul Wahab. Tipe dakwah yang dilakukan hampir sama dengan tipe dakwah Salafi sebelumnya. Mereka datang dengan tujuan memperbaharui Islam sehingga dapat serupa dengan kaum Salaf. Jika diteliti lebih dalam, justru mereka menjauhkan ajaran Salaf dari umat Islam. Berikut beberapa contoh perbedaan Salaf dan Salafi.

Baca juga Umar bin Khattab melakukan bid’ah.

4 Contoh perbedaan Salaf dengan Salafi Wahabi

Takwil

Kaum Salafi sangat anti mentakwil ayat-ayat mutasyabihat mengenai sifat Allah. Menurut mereka semua ayat itu seharusnya dipahami secara zahir, tidak boleh ditakwil. Salah satu syaikh Salafi bernama Al Buthomi dalam kitab Aqoid as Salafiyah hal.49 mengatakan mengenai orang yang mentakwil ayat Al-Quran: “Orang seperti itu adalah keliru dan sesat tapi tidak seyogyanya dikafirkan. Sebab ia tidak mengingkari Allah dan Rasul. Kecuali jika ia mengajak kepadanya sebagaimana telah diteliti dari kalam para ulama.”

Apabila kita melihat kepada sejarah Salaf, ternyata banyak para Salaf yang melakukan takwil kepada ayat-ayat Sifat. Sebagai contoh dalam Al-Quran Allah SWT berfirman:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (Qs. al-Qashash:88).

Tinggalkan komentar