Puasa Ramadhan (Dalil, Syarat, Hal Dianjurkan Dan Hal Membatalkannya)

Puasa dalam bahasa Arab disebut “Shaum” atau “Saum”. Saum secara harfiah berarti “menahan diri”.

Dan kata ini pula yang disebut di dalam Al Qur’an saat mengisahkan Maryam, bahwa ibu nabi Isa Alaihi Sallam melakukan nazar untuk berpuasa:

إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

Artinya:

“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. [QS. Maryam (19): 26].

Menurut Syariah, puasa berarti menahan diri dari segala hal yang dilarang selama puasa, menahan diri dimulai saat fajar hingga matahari terbenam, dengan niat untuk berpuasa.

Tujuan dan dalil puasa

Pada Surat Al Baqarah (2) :183 Allah Azza Wa Jalla menjelaskan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Taqwa merupakan aspek spiritual sangat penting dan merupakan hal yang membawa kita kepada mentaati perintah Allah Ta’ala dan menjauhi laranganNya. Kesimpulannya adalah merupakan intisari dari keseluruhan aspek spiritual dalam Islam dan adab.

Taqwa merupakan kualitas kehidupan seorang yang beriman guna menjaga dirinya agar selalu ingat terhadap Allah setiap waktu. Seorang yang bertaqwa selalu cinta melakukan hal baik dan menjauhi keburukan demi mendapat Ridho Allah Ta’ala.

Taqwa membutuhkan kesabaran dan keteguhan hati. Dan puasa menempa kita untuk sabar, dengan kesabaran kita dapat meningkatkan ketaqwaan.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam menjelaskan bahwa puasa merupakan tameng. Ia melindungi seseorang dari melakukan dosa dan jeratan hawa nafsu.

Menurut pandangan Imam Al Ghazali, puasa menghasilkan kualitas samadiyah (Bebas dari keinginan) dalam diri manusia. Imam Ibn Al Qayyim memandang puasa sebagai usaha melepaskan ruh manusia dari cengkeraman hawa nafsu, sehingga dapat menaklukan kehidupan dunia.

Maulana Maududi 1979 menekankan bahwa puasa sebulan penuh setiap tahun melatih seseorang secara individu, dan komunitas Muslim secara keseluruhan, dalam ketaqwaan dan pengendalian diri.

Puasa merupakan kewajiban

Pada tahun kedua Hijriah, umat Muslim diperintahkan untuk berpuasa pada bulan Ramadhan setiap tahun seperti yang disebutkan pada  Al-Baqarah 2:183.

Lebih jauh lagi, Al Qur’an menjelaskan bahwa “Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” [Al-Baqarah 2:184].

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Shohbihi Wa Sallam menjelaskan lebih dalam lagi dalam sejumlah pernyataannya yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Hadits. Bahkan puasa merupakan bagian dari Rukun Islam.

Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Imam Muslim berdasarkan riwayat Ibnu Umar bahwa Rasulullah (S.A.W) mengatakan: “Islam dibangun berdasarkan lima rukun: mengucapkan bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan Shalat, membayar Zakir, naik haji, dan melaksanakan puasa di bulan Ramadhan”.

Seluruh umat Islam sepakat mengenai prinsip berpuasa di bulan Ramadhan dan menganggapnya sebagai kewajiban bagi setiap muslim yang secara fisik dan akal mampu (mukallaf).

Aturan dan tata cara dalam Puasa Ramadhan

Berikut ini adalah segala aturan dan tata cara seputar melaksanakan ibadah puasa Ramadhan agar kita dapat melaksanakannya sesuai yang diperintahkan Allah Ta’ala dan dipraktekan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sahbihi Wa Sallam.

Yang wajib puasa Ramadhan

Siapapun yang mengaku dirinya beriman pastilah menantikan datangnya bulan Ramadhan dengan penuh rasa rindu, karena di waktu inilah saatnya meningkatkan kualitas iman dan perasaan damai.

Puasa di bulan Ramadhan merupakan perkara wajib bagi setiap Muslim dewasa, baik pria dan wanita, yang telah akil balik, dan waras, tidak sedang sakit dan musafir.

Yang tidak wajib puasa Ramadhan

1. Orang sakit

Sakit yang sementara, artinya si penderita akan sembuh nanti. Maka orang tersebut diperbolehkan untuk tidak puasa disaat sakit, namun harus mengganti (Qadha) puasanya kelak setelah Ramadhan sebanyak hari yang ditinggalkan.

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Artinya:

Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” [Al Baqarah (2) : 184].

Sedangkan bagi mereka yang menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan, maka diperbolehkan untuk tidak puasa dan tidak perlu menggantinya, akan tetapi mereka harus membayar fidyah, yakni memberi makan orang sebagai ganti puasanya. Fidyah bisa berbentuk makan untuk satu hari atau uang setara harga makanan.

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Artinya:

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. [Al Baqarah (2): 184]

2. Wanita sedang haid

Sedangkan bagi wanita yang menstruasi dan mengalami pendarahan pasca kelahiran (postnatal) tidak diperbolehkan berpuasa, namun harus menggantinya setelah Ramadhan.

3. Wanita hamil dan menyusui

Adapun wanita hamil atau seorang ibu yang sedang menyusui diperbolehkan juga untuk tidak berpuasa, dan harus menggantinya kemudian apabila siap.

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَضَعَ عَنِ المُسَافِرِ الصَّوْمَ، وَشَطْرَ الصَّلَاةِ، وَعَنِ الحَامِلِ أَوِ المُرْضِعِ الصَّوْمَ

“Sesungguhnya Allah menggugurkan kewajiban bagi musafir puasa dan setengah shalat, demikian pula bagi wanita hamil dan menyusui.” [Riwayat Nasai di no. 2274, dari Abu Qilabah, dan Anas bin Malik (Bani Ka’b) radhiyallahu ‘anhu].

4. Musafir

Musafir menurut Syariah Islam merupakan perjalanan jauh dari kota domisili, minimum 80 kilometer. Perjalanan harus untuk keperluan yang benar. Oleh karenanya hindari perjalanan untuk keperluan tidak benar dengan begitu ia meninggalkan puasa. Jika mungkin, maka rubah rencana bepergian saat Ramadhan agar dapat berpuasa dan sebaiknya tidak bepergian kecuali memang penting dan dibutuhkan.

عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Artinya

Atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” [Al Baqarah (2) : 184].

Dan bagi mereka yang bepergian kemudian tidak berpuasa maka mereka harus menggantinya segera setelah Ramadhan berakhir.

Aturan puasa menurut Sunnah

Adapun puasa menurut aturan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sohbihi Wa Sallam.

UrutanAktivitasWaktu
1Niat puasa Ramadhan (Menetapkan hati untuk berpuasa).
  1. Malam setelah shalat Fardhu 'Isya.

  2. Saat makan Sahur. Yang pasti sebelum masuk waktu Fajar.
2SahurWaktu terbaik adalah setengah jam sebelum berakhir waktu Sahur berakhir atau mendekati waktu Shalat Subuh.
3Shalat SubuhSetelah Imsyak masuk Shalat Subuh menandakan puasa dimulai.
4Buka puasaSegera setelah matahari terbenam. (Baca doa buka Puasa Ramadhan sesuai Sunnah Nabi).

Dalil untuk makan Sahur:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Artinya:

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187).

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَصُومَ فَلْيَتَسَحَّرْ بِشَيْءٍ

Artinya:

“Siapa yang ingin berpuasa hendak makan sahur dengan sesuatu.” (HR. Ahmad).

Dalil untuk berbuka puasa (Iftar)

Berdasarkan firman Allah Ta’ala.

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Artinya:

Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187).

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا، وَأَدْ بَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

Dan juga berdasarkan hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sahbihi Wa Sallam.

Artinya:

“Jika malam datang dari sini, siang menghilang dari sini dan terbenam matahari, telah berbukalah orang yang puasa” [Bukhari 4/171, Muslim 1100]

Apa yang harus dihindari selama puasa

Selama berpuasa, menahan diri dari omongan dan tindakan yang akan membatalkannya. Jangan berdebat, berkelahi, menggunakan kata-kata caci maki atau tindakan apapun yang dilarang. Kita harus berusaha mengendalikan diri secara moral dan etika.

Tidak juga dianjurkan memamerkan puasa dengan terus membicarakannya, atau mencoba menampilkan bibir kering atau mengeluh perut lapar, atau juga cepat emosi. Orang yang berpuasa seharusnya tenang dan merasa bahagia dan puasa karena sejatinya jiwanya dalam keadaan bahagia.

Apa yang harus dilakukan selama puasa

Perbanyaklah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan membaca Al Qur’an karena dibulan ini Al Qur’an pertama kali diturunkan dan di bulan ini pula Nabi dan malaikat Jibril sering menelaah Al Qur’an, dan mendirikan Shalat Wajib di Masjid dan melaksanakan Shalat Sunnah, beramal dengan sedekah, bersilaturahmi kepada tetangga, sanak famili dan selalu menyebarkan kebaikan. Karena semua ibadah dibulan ini dilipat gandakan pahalanya.

Hal yang membatalkan puasa Ramadhan

Hindari untuk melakukan salah satu dari semua tindakan ini agar puasa anda tidak batal. Hal-hal yang membatalkan puasa anda dan mengakibatkan anda harus di Qadha (mengganti sebanyak hari ditinggalkan) adalah sebagai berikut:

  • Makan dan minum secara sengaja, termasuk memasukan materi yang bukan makanan seperti merokok kedalam mulut atau hidung.
  • Dengan sengaja membuat diri anda muntah,.
  • Hubungan seksual dengan sengaja atau tindakan seksual lainnya (seperti onani) yang menghasilkan ejakulasi pada pria dan sekresi pada wanita. Atau tindakan yang mendekati ke arah seksualitas. Untuk lebih lengkapnya maka silahkan ke hal yang membatalkan puasa.

Melakukan hubungan seksual selama puasa merupakan tindakan yang dilarang. Siapapun yang melakukannya maka harus meng-Qadha (mengganti puasa) dan menunaikan Kaffarah yakni berpuasa selama 60 hari setelah Ramadhan atau memberi makan 60 orang sebanyak hari puasa yang ditinggalkan.

Menurut Imam Abu Hanifah, makan dan minum secara sengaja selama berpuasa juga dijatuhi hukuman Qadha dan Kaffarah.

Hal yang tidak membatalkan puasa

Yang berikut adalah hal-hal yang dibolehkan selama menjalankan puasa:

  1. Mandi, jikalau air tertelan tidak sengaja maka tidak akan membatalkan puasa. Dan menurut kesepakatan para ulama, berenang diperbolehkan selama puasa, namun sebaiknya hindari menyelam, karena bisa menyebabkan air masuk ke mulut dan hidung lalu ke perut.
  2. Menggunakan minyak wangi, dan juga menggunakan lensa kontak atau tetes mata.
  3. Disuntik atau tes darah.
  4. Menggunakan miswak (sikat gigi) atau sikat gigi bahkan menggunakan pasta dan membersihkan mulut atau lobang hidung dengan air.
  5. Makan, minum dan merokok secara tidak sengaja. Jika seseorang lupa kalau dirinya sedang berpuasa kemudian dia makan, minum dan merokok, maka dia harus menghentikan semua itu segera setelah sadar bahwa dirinya sedang berpuasa, dan harus melanjutkan puasa.
  6. Tidur siang hari, dibolehkan untuk tidur siang hari saat menjalankan puasa.
  7. Mimpi basah, saat menjalankan puasa dan tertidur kemudian ia menyadari bahwa telah mimpi basah maka hal ini tidak membatalkan puasa namun harus mandi.
  8. Lupa mandi setelah berhubungan seksual pada malam hari tidak pula membatalkan puasa, misalkan seseorang melakukan hubungan seksual kemudian tertidur dan bangun sudah di waktu puasa, maka dia hanya perlu mandi dan tetap berpuasa, karena hal ini tidak membatalkan puasa. Bahkan wanita yang malamnya baru berhenti masa haid, kemudian belum mandi, maka pada saat waktu puasa, dia dapat berpuasa dan dianjurkan untuk mandi.
  9. Mencium dan mencumbui istri atau suami diperbolehkan saat melaksanakan puasa, namun sebaiknya dihindari karena dikhawatirkan bisa melakukan tindakan yang lebih jauh lagi (yakni bersetubuh) yang hasilnya bisa membatalkan puasa.

Syarat Puasa

Adapun syarat Puasa terbagi menjadi Syarat Wajib puasa, syarat menunaikannya dan syarat sah untuk melaksanakannya.

Syarat wajib Puasa

  1. Beragama Islam.
  2. Berakal.
  3. Sudah baligh.
  4. Mengerti dan sadar akan wajibnya berpuasa.

Syarat wajib untuk menunaikan Puasa

Maksud syarat ini adalah ketika seseorang mendapati dirinya memenuhi syarat untuk melakukannya, maka kewajiban berpuasa jatuh kepadanya. Adapun syarat-syaratnya adalah sebagai berikut:

  1. Dalam keadaan sehat jasmani dan akal.
  2. Bukan musafir.
    Adapun dalil dari kedua syarat ini dapat ditemui dalam firman Allah Ta’ala.

    وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

    “Dan barangsiapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al Baqarah: 185).

  3. Suci dari haid dan nifas.

Syarat sah puasa

Adapun untuk syarat sah menunaikan puasa adalah sebagai berikut:

  1. Suci dari haid dan nifas. Ini merupakan syarat sah puasa, adalah wajib jikalau seseorang terbebas dari keduanya untuk melakukan puasa karena sebagai syarat sah puasa.
  2. Niat. Selanjutnya adalah niat, hal ini merupakan syarat sah puasa karena setiap ibadah tidaklah sah apabila tanpa disertai niat. Untuk rujukan niat dapat kita dapati dalil dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sohbihi Wa Sallam berikut ini:

    إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

    Artinya:

    “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya.”[HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907, dari ‘Umar bin Al Khattab].

Kesimpulan.

Puasa Ramadhan merupakan ibadah wajib yang amat sayang jikalau dilalaikan dan tidak dimanfaatkan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ibadah kita, karena dibulan puasa ini Allah Ta’ala memberikan kekhususan luar biasa dimana dijanjikan penghapusan dosa-dosa kita yang telah lalu.

من صام رمضان إيمانا واحتسابا ، غفر له ما تقدم من ذنبه

Artinya:

“Orang yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. [HR. Bukhari no.38, Muslim, no.760].

Dibebaskan dari api neraka dan diijabahnya doa.

إنَّ للهِ في كلِّ يومٍ وليلةٍ عُتَقاءَ مِنَ النَّارِ في شهرِ رمضانَ وإنَّ لكلِّ مسلمٍ دَعوةً يدعو بها فيُسْتجابُ له

Artinya:

“Sesungguhnya di setiap hari dan malam bulan Ramadhan dari Allah ada pembebasan dari api neraka. dan bagi setiap Muslim ada doa yang jika ia berdoa dengannya maka akan diijabah” (HR. Ahmad 2/254, Al Bazzar 3142, Al Haitsami berkata: “semua perawinya tsiqah”).

Oleh karenanya manfaatkanlah ibadah yang hadir setiap tahunnya atas izin Allah Azza Wa Jalla ini dan semoga kita selalu bertemu dengan bulan puasa setiap tahunnya dan terus setiap tahunnya, Aaamiiin Allahuma Aaamiiin.

Ingat bahwa dalam puasa Ramadhan adapula kewajiban yang tidak kalah pentingnya yakni membayar Zakat Fitrah.

Semoga informasi tentang puasa Ramadhan ini bermanfaat untuk kita semua dan sampai jumpa lagi di artikel-artikel kami selanjutnya di masa datang. Silahkan beritahu siapa saja yang menurut anda akan menemukan manfaat dengan artikel ini. Karena membagikan kebaikan tentang agama merupakan bagian dari Dakwah Islam yang Insha Allah memberikan pahala kepada yang melakukannya. Sampai jumpa lagi saudara dan saudari dalam iman Islam.

Allahu alam Bissawab.

Tinggalkan komentar