Tinggalkan Mengkonsumsi Kafein

Meskipun kafein dan kopi tampak sebagai dua hal berkaitan erat, namun perlu disadari bahwa kafein bukanlah kopi dan bukan hanya ada di kopi saja. Kafein juga dapat ditemukan pada esensi lainnya seperti teh hitam, kola, cokelat dan minuman energi.

Dan di artikel ini akan diberikan sejumlah alasan untuk mengurangi atau bahkan menjauhi kebiasaan mengkonsumsi kafein, namun ada baiknya untuk terlebih dahulu mengetahui alasan kenapa kita begitu gandrung terhadap kafein.

Apakah kafein membuat kecanduan?

Banyak orang sangat suka kafein bahkan amat menggandrunginya dan itu merupakan sebuah bentuk kecanduan. Kafein memang merupakan substansi yang bikin kecanduan seperti halnya alkohol, nikotin, opium dan gula. Bagi sebagian orang memanglah sulit mengkategorikan sebuah makanan sebagai zat adiktif, namun pada faktanya makanan dapat dan memang mempengaruhi otak kita. Kafein juga melakukan hal ini dan beraksi di sistem saraf pusat manusia.

Sebagian orang rutin mengkonsumsi kafein, dalam kopi, bukan karena kecanduan namun mereka menjadikan kafein sebagai “obat” pencuci-perut.  Sembelit merupakan masalah umum, di Indonesia bahkan di dunia barat sana, dan banyak orang merasakan manfaat besar kafein sebagai obat pencuci-perut mujarab. Namun begitu, bukan berarti sebagai obat penyembuh sembelit dan akibat dari sembelit.

Jaman sekarang, kelenjar adrenalin bekerja amat keras dikarenakan tekanan hidup yang begitu berat. Kelenjar adrenalin akan kelelahan dan bahkan menjadi atrophied (berkerut) dikarenakan terus bekerja. Nah peranan kafein layaknya sebuah “cambuk” bagi adrenalin agar terus bekerja.

Kemudian jika ditambahkan dengan keberadaan gula, maka semakin efektif si cambuk itu. Hasilnya, kelenjar adrenalin akan terus menderita dan mengakibatkan disfungsi pada alergi  hypothyroidism (penyakit yang menyebabkan menopause). Oleh karenanya sebaiknya menghentikan konsumsi kafein daripada terus melakukan pengobatan.

Selain itu, kafein juga amat dikenal sebagai pengurang rasa sakit dan digunakan banyak perusahaan farmasi untuk mengurangi rasa sakit (pain killer). Rasa sakit merupakan hal umum di masa sekarang, namun bukan perkara normal. Sakit berperan sebagai sinyal dari tubuh bahwa ada hal yang salah atau tidak berfungsi dengan baik. Jikalau anda merasakan sakit, dan tidak tahu penyebabnya, maka lakukan pemeriksaan medis. Tindakan ini jauh lebih baik dibandingkan menguranginya dengan konsumsi kafein.

Bagaimanakah asupan kafein yang aman?

Bagi sebagian orang—khususnya yang sensitif—mengkonsumsi kafein bisa mengalami gejala berikut.

  • Tidak mampu menghentikan tangan dan kaki saat gemetar.
  • Keringat dingin.
  • Gejolak energi tidak stabil.
  • Penglihatan ganda.
  • Mual.
  • Detak jantung cepat.
  • Kepala berputar.
  • Rasa kantuk.

Kafein merupakan komponen yang ada dalam makanan dan tidak berbahaya dalam dosis aman. Namun begitu, diantara peneliti terjadi perdebatan mengenai tingkat konsumsi aman kafein.

Menurut pakar makanan dunia, George Mateljan, tidak ada studi yang menunjukkan bahaya akibat konsumsi kafein dibawah 75 miligram perhari. Dia juga menyatakan bahwa “umumnya studi menunjukkan adanya potensi efek samping buruk jika konsumsi kafein diatas 200 miligram”.

Tinggalkan komentar