Tuntunan Shalat Idul Fitri Dan Idul Adha Sesuai Sunnah Nabi

Tuntunan Shalat Idul Fitri Dan Idul Adha Sesuai Sunnah Nabi
  • Advertisements

  • Idul Fitri dan Idul Adha merupakan kedua hari raya umat Islam yang selalu hadir setiap tahun, dimana Idul Fitri jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah Ramadhan berakhir, sedangkan Idul Adha jatuh pada 10 Dzulhijjah yaitu hari raya kurban.

    Dan disetiap hari raya tersebut kita disunnahkan melakukan Shalat Ied, dan derajatnya adalah Shalat Sunnah Muakkadah yakni Sunnah yang amat dianjurkan sekali dikarenakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Shahbihi Wa Sallam tidak pernah meninggalkan Shalat ini selama hidupnya.

    Dan di artikel ini saya akan mengajak anda untuk mempelajari Sunnah apa saja yang dilakukan oleh Nabi dan para Sahabatnya saat sebelum melaksanakan Shalat Ied hingga selesai melaksanakannya.

    Insya Allah artikel ini bermanfaat apalagi kedatangan Ied tinggal menghitung hari saja, sudah sewajarnya kita sebagai umat Islam mengetahui apakah yang Nabi dan para Shabatnya lakukan di hari Raya. Silahkan dipelajari keseluruhan artikel tuntunan Shalat Idul Fitri dan Idul Adha sesuai Sunnah Nabi yang Insya Allah dapat memberikan manfaat dan petunjuk bagi kita semua yang selalu mencarinya Aaamiiin Allahuma Aaamiiin.

    Tuntunan Shalat Idul Fitri dan Idul Adha sesuai Sunnah Nabi

    Metode Sunnah dan mengenai Shalat Idul Fitri dan Idul Adha

    Berikut adalah apa saja yang nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam lakukan di hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

    1. Disunnahkan untuk mandi

    Di Dianjurkan untuk mandi, memakai parfum dan memakai pakaian terbaik saat ingin melaksanakan Shalat Ied.

     

    وعن الحسن السبط، قال: أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في العيدين، أن نلبس أجود ما نجد، وأن نتطيب بأجود ما نجد، وأن نضحي بأثمن ما نجد

    Artinya:

    Al-Hassan as-Sibt meriwayatkan: “Rasulullah (Sallallahu Alaihi Wa Sallam) memerintahkan kami untuk mengenakan pakaian terbaik yang dapat kita temui untuk dua Idul dan juga memakai wangi-wangian yang dapat kita temui dan mengorbankan binatang terbaik yang kita dapat temui.” [Hakim]

    2 Disunnahkan untuk makan sebelum Shalat Idul Fitri (Akhir Ramadhan) namun tidak disunnahkan pada Shalat Idul Adha (Yaitu hari raya idul kurban).

    Saat idul fitri disunahkan memakan beberapa kurma sebelum melaksanakn Shalat Idul Fitri namun tidak untuk Shalat Idul Adha, dianjurkan menunda untuk makan hingga pulang dari Shalat Idul Adha dan dirinya boleh makan apa yang ia kurbankan jikalau ia berkurban hewan pada hari raya Adha.

    حدثنا ‏ ‏محمد بن عبد الرحيم ‏ ‏حدثنا ‏ ‏سعيد بن سليمان ‏ ‏قال حدثنا ‏ ‏هشيم ‏ ‏قال أخبرنا ‏ ‏عبيد الله بن أبي بكر بن أنس ‏ ‏عن ‏ ‏أنس بن مالك ‏ ‏قال ‏

    ‏كان رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏لا يغدو يوم الفطر حتى يأكل تمرات ‏

    ‏وقال ‏ ‏مرجأ بن رجاء ‏ ‏حدثني ‏ ‏عبيد الله ‏ ‏قال حدثني ‏ ‏أنس ‏ ‏عن النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏ويأكلهن وترا ‏

    Artinya:

    Diriwayatkan oleh Anas bin Malik (RA): Rasulullah (Sallallahu Alaihi Wa Sallam) tidak pernah melewatkan memakan beberapa buah kurma sebelum menunaikan Shalat Idul Fitri. Anas (RA) juga meriwayatkan: Nabi (Sallallahu Alaihi Wa Sallam) biasa makan beberapa buah kurma. [Bukhari]

    عن بريدة رضي الله عنه قال : ” كان النبي – صلى الله عليه وسلم – لا يخرج يوم الفطر حتى يأكل، ولا يأكل يوم الأضحى حتى يرجع فيأكل من أضحيته ” رواه أحمد

    Artinya:

    Buraidah (RA) meriwayatkan: “Nabi (Sallallahu Alaihi Wa Sallam) tidak akan keluar pada hari setelah puasa (Yaitu Idul Fitri) hingga ia telah makan dan pada hari raya kurban (Idul Adha) ia tidak memakan apapun hingga ia kembali (Dari Shalat). Dan beliau akan memakan dari apa yang telah ia kurbankan.” [Ahmad].

    3. Kembali dari Shalat Idul Fitri dan Adha

    Disunnahkan untuk mengambil jalan (rute) berangkat Shalat Id berbeda dengan rute pulangnya.

    وعن أبي هريرة، قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا خرج إلى العيد، يرجع في غير الطريق، الذي خرج فيه

    Artinya:

    Abu Hurairah (RA) meriwayatkan: “Ketika Nabi (Sallallahu Alaihi Wa Sallam) kembali dari Shalat Ied, ia mengambil jalan (rute) yang berbeda.” [Nail Al-Awtar].

    4. Di manakah Shalat Idul Fitri dan Idul Adha dilaksanakan?

    Shalat Idul Fitri dan Idul Adha dapat dilaksanakan di Masjid namun sangat dianjurkan di tempat terbuka (lapangan) dan di luar perkampungan tempat berdomisili, kecuali ada alasan yang memaksa untuk tidak melakukannya seperti karena hujan, dan penyebab lainnya.

    Dikarenakan Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Sallam) melaksanakan dua Shalat Idul diluar Madinah dan tidak pernah melaksanakannya di dalam Masjid miliknya, kecuali hanya sekali dikarenakan turun hujan.

    حدثنا ‏ ‏هشام بن عمار ‏ ‏حدثنا ‏ ‏الوليد ‏ ‏ح ‏ ‏و حدثنا ‏ ‏الربيع بن سليمان ‏ ‏حدثنا ‏ ‏عبد الله بن يوسف ‏ ‏حدثنا ‏ ‏الوليد بن مسلم ‏ ‏حدثنا ‏ ‏رجل من ‏ ‏القرويين وسماه ‏ ‏الربيع ‏ ‏في حديثه ‏ ‏عيسى بن عبد الأعلى بن أبي فروة ‏ ‏سمع ‏ ‏أبا يحيى عبيد الله التيمي ‏ ‏يحدث عن ‏ ‏أبي هريرة ‏

    ‏أنه ‏ ‏أصابهم مطر في يوم عيد فصلى بهم النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏صلاة العيد في المسجد ‏

    Artinya:

    Abu Hurairah (RA) meriwayatkan bahwa saat hujan pada hari raya Ied, maka Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Sallam) membiarkan mereka Shalat Ied di dalam Masjid. [Abu Dawud].

    5. Haruskah para wanita menghadiri dan melaksanakan Shalat Ied?

    Saat di zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam para wanita menghadiri Shalat Ied, dan hal ini seperti yang terdapat dalam sebuah riwayat Hadits berikut ini.

    حدثني ‏ ‏إسحاق بن إبراهيم بن نصر ‏ ‏قال حدثنا ‏ ‏عبد الرزاق ‏ ‏قال حدثنا ‏ ‏ابن جريج ‏ ‏قال أخبرني ‏ ‏عطاء ‏ ‏عن ‏ ‏جابر بن عبد الله ‏ ‏قال سمعته يقول ‏

    ‏قام النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يوم الفطر ‏ ‏فصلى فبدأ بالصلاة ثم خطب فلما فرغ نزل فأتى النساء فذكرهن وهو يتوكأ على يد ‏ ‏بلال ‏ ‏وبلال ‏ ‏باسط ثوبه يلقي فيه النساء الصدقة ‏ ‏

    Artinya:

    Artinya:

    Diriwayatkan Ibn Juraij (RA) : ‘Ata’ (RA) mengatakan padaku bahwa dirinya pernah mendengar dari Jabir bin ‘Abdullah (RA) mengatakan, “Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Sallam) berdiri untuk mendirikan Shalat Idul Fitri. Ia melaksanakan Shalat terlebih dulu kemudian memberikan Khutbah. Setelah selesai ia turun (dari anak tangga mimbar) dan menghampiri para wanita dan menasehati mereka sambil bersandar pada lengan Bilal. Bilal (Saat itu) membeberkan pakaiannya dimana para wanita menaruh sedekahnya….[Bukhari].

    Dan para wanita amat sangat dianjurkan untuk menghadiri Shalat Ied.

    وَالْحُيَّضَ لِيَشْهَدْناَ الخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَتَعْتَزِلَ الْحُيَّضُ الْمُصَلِّى

    Artinya:

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyuruh kami keluar menghadiri shalat Ied bersama budak-budak perempuan dan perempuan-perempuan yang sedang haid untuk menyaksikan kebaikan-kebaikan dan mendengarkan khutbah. Dan bagi wanita yang sedang haid disuruh menjauhi tempat shalat.” (HR. Bukhari: 313, Muslim: 1475).

    Dan mereka diwajibkan memakai jilbab saat menghadiri Shalat ied.

    يَا رَسُوْلَ اللهِ لاَ تَجِدُ إِحْدَنَا جِلْبَابًا تَخْرُجُ فِيْهِ فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

    Artinya:

    Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang tidak mempunyai jilbab.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata: “Hendaklah saudaranya memberikan (meminjamkan) jilbab kepadanya.” (HR. Ahmad: 19863).

    Berdasarkan penjelasan diatas maka tidak ada keraguan mengenai penekanan tegas agar para wanita menghadiri Shalat Ied agar mereka juga dapat menyaksikan kebaikan-kebaikan dan keberkahan saat hari itu.

    6. Mengumandangkan takbir

    Saat menuju ke tempat melaksanakan Shalat Ied Fitri maka takbir harus dikumandangkan dengan pelan namun untuk Shalat Idul Adha takbir harus keras-keras.

    وعن ابن عمر رضي اللَّه تعالى عنهما: (أنه كان إذا غدا إلى المصلى كبر فرفع صوته بالتكبير) وفي رواية: (كان يغدو إلى المصلى يوم الفطر إذا طلعت الشمس فيكبر حتى يأتي المصلى ثم يكبر بالمصلى حتى إذا جلس الإمام ترك التكبير).[ رواهما الشافعي ]

    Artinya:

    Ibnu Umar (RA) biasa menuju Shalat Ied awal pagi dan biasa mengumandangkan Takbir sembari meninggikan suaranya. Riwayat lainnya menyatakan bahwa dirinya biasa menuju tempat Shalat Ied di pagi hari (Sebagaimana terbitnya matahari) dan mengumandangkan Takbir hingga mencapai tempat Shalat. Dan kemudian ia biasa mengumandangkan Takbir di tempat Shalat hingga Imam berada pada tempatnya dan ia biasa berhenti bertakbir. [Musnad Imam Syafi’i (RA)].

    7. Kapankah Shalat Ied dilaksanakan?

    Waktu pelaksanaan Shalat Ied adalah setelah terbitnya matahari namun untuk Shalat Idul Fitri ditunda sebentar pelaksanaannya namun untuk Shalat Idul Adha harus disegerakan.

    أخرجه الحسن بن أحمد البناء، من حديث جندب، قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي بنا الفطر، والشمس على قيد رمحين ، والأضحى على قيد رم

    Artinya:

    Ahmad ibnu Hassan al-Bana’ meriwayatkan Jundub (RA) bersabda: “Nabi(Shallallahu Alaihi Wa Sallam) melaksanakan Shalat Idul Fitri disaat posisi matahari (sekitar) enam meter diatas horison sedangkan Idul Adha disaat posisi matahari tiga meter diatas horison.” [Talkhisul-Habir].

    قال ابن قدامة: ويسن تقديم الأضحى؛ ليتسع وقت الضحية، وتأخير الفطر؛ ليتسع وقت إخراج صدقة الفطر، ولا أعلم فيه خلافاً

    Artinya:

    Ibn Qudamah (RA) meriwayatkan: “Adalah sebuah Sunnah untuk melaksanakan Shalat Idul Adha lebih awal guna memberikan lebih waktu bagi mereka yang ingin melaksanakan kurban, dan pada Shalat Idul Fitri ditunda diperuntukan memberi waktu kepada mereka untuk membayar zakat Fitrah. Saya tidak tahu mengenai ada perbedaan mengenai pendapat ini.”

    8. Bagaimana Shalat Idul Fitri dan Adha dilaksanakan

    Tidak ada Adzan atau Qomat (Iqamah) untuk Shalat Ied.

    و حدثني ‏ ‏محمد بن رافع ‏ ‏حدثنا ‏ ‏عبد الرزاق ‏ ‏أخبرنا ‏ ‏ابن جريج ‏ ‏أخبرني ‏ ‏عطاء ‏ ‏عن ‏ ‏ابن عباس ‏ ‏وعن ‏ ‏جابر بن عبد الله الأنصاري ‏ ‏قالا ‏

    ‏لم يكن يؤذن يوم الفطر ولا يوم الأضحى ثم سألته بعد حين عن ذلك فأخبرني قال أخبرني ‏ ‏جابر بن عبد الله الأنصاري ‏ ‏أن لا أذان للصلاة يوم الفطر حين يخرج الإمام ولا بعد ما يخرج ولا إقامة ولا نداء ولا شيء لا نداء يومئذ ولا إقامة ‏

    Artinya:

    Ibnu ‘Abbas dan Jabir bin ‘Abdullah al-Ansari meriwayatkan: Tiada Adzan pada (Shalat) Idul Fitri dan Adha. Saya (Ibnu Juraji) mengatakan: Saya bertanya kepadanya setelah beberapa waktu mengenai perkara ini. Beliau (‘Ata, salah seorang perawi) menjawab: Jabir Bin ‘Abdullah al-Ansari mengatakan padaku: Tidak ada Adzan pada Idul Fitri disaat Imam muncul, bahkan tidak pula setelah ia muncul, tidak pula ada Iqamah atau juga panggilan apapun pada hari itu dan tidak pula Iqamah. [Muslim].

    9 Tidak ada Shalat apapun sebelum dan sesudah Shalat Ied

    حدثنا ‏ ‏أبو الوليد ‏ ‏قال حدثنا ‏ ‏شعبة ‏ ‏قال حدثني ‏ ‏عدي بن ثابت ‏ ‏قال سمعت ‏ ‏سعيد بن جبير ‏ ‏عن ‏ ‏ابن عباس ‏

    ‏أن النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏خرج يوم الفطر فصلى ركعتين لم يصل قبلها ولا بعدها ومعه ‏ ‏بلال ‏

    Artinya:

    Ibnu ‘Abbas (RA) meriwayatkan: “Rasulullah (Sallallahu Alaihi Wa Sallam) keluar menuju tempat Shalat Ied dan melaksanakan Shalat dua raka’at (Yakni Shalat Ied) tanpa melaksanakan Shalat apapun sebelum dan setelahnya dan Bilal (RA) bersamanya.” [Bukhari].

    Artinya tidak ada Shalat Qabliyah dan Ba’diyah atau Shalat Rawatib dalam Shalat Ied yang dilaksanakan pada hari raya karena nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak melakukan Shalat apapun baik sebelum dan setelah melaksanakannya.

    10 Shalat Ied terdiri dari dua rakaat

    حدثنا ‏ ‏أبو الوليد ‏ ‏قال حدثنا ‏ ‏شعبة ‏ ‏قال حدثني ‏ ‏عدي بن ثابت ‏ ‏قال سمعت ‏ ‏سعيد بن جبير ‏ ‏عن ‏ ‏ابن عباس ‏

    ‏أن النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏خرج يوم الفطر فصلى ركعتين لم يصل قبلها ولا بعدها ومعه ‏ ‏بلال ‏

    Artinya:

    Ibn ‘Abbas (RA) meriwayatkan: “Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Sallam) keluar menuju tempat Shalat Ied dan melaksanakan Shalat dua rakaat (Yakni Shalat Ied) tanpa melaksanakan Shalat apapun sebelum dan setelahnya dan Bilal (RA) bersamanya.” [Bukhari]

    11 Shalat Ied terdiri dari enam takbir tambahan

    حدثنا ‏ ‏محمد بن العلاء ‏ ‏وابن أبي زياد ‏ ‏المعنى قريب ‏ ‏قالا حدثنا ‏ ‏زيد يعني ابن حباب ‏ ‏عن ‏ ‏عبد الرحمن بن ثوبان ‏ ‏عن ‏ ‏أبيه ‏ ‏عن ‏ ‏مكحول ‏ ‏قال أخبرني ‏ ‏أبو عائشة ‏ ‏جليس ‏ ‏لأبي هريرة ‏

    ‏أن ‏ ‏سعيد بن العاص ‏ ‏سأل ‏ ‏أبا موسى الأشعري ‏ ‏وحذيفة بن اليمان ‏ ‏كيف كان رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يكبر في الأضحى والفطر ‏ ‏فقال ‏ ‏أبو موسى ‏ ‏كان ‏ ‏يكبر أربعا تكبيره على الجنائز ‏

    ‏فقال ‏ ‏حذيفة ‏ ‏صدق ‏ ‏فقال ‏ ‏أبو موسى ‏ ‏كذلك كنت أكبر في ‏ ‏البصرة ‏ ‏حيث كنت عليهم ‏ ‏و قال ‏ ‏أبو عائشة ‏ ‏وأنا حاضر ‏ ‏سعيد بن العاص ‏

    Artinya:

    Hazrat Abu Musa Ash’ari (radhiallahu anhu) ditanya mengenai jumlah takbir yang Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Sallam) biasa mengumandangkan pada kedua Shalat Ied. Dia menjawab: “Beliau (Shallallahu Alaihi Wa Sallam) biasa mengumandangkan empat takbir (Di setiap rakaat), seperti beliau biasa melakukan takbir saat melaksanakan Shalat Jenazah“. Hazrat Hudhaifa (radhiallahu anhu) juga mengkonfirmasi praktek ini dari Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Sallam). [Abu Dawud].

    Otentitas:

    Imam Abu Dawood (RA) berdiam diri terhadap pada riwayat ini pada susunan yang menegaskan otentitasnya. Perkara ini juga di nyatakan oleh Shaykh Abdur-Rahman Mubarakpuri (RA) pada komentarnya dalam kitab Jami` at-Tirmidhi. Dia (RA) menunjukkan bahwa kedua Imam Abu Dawood (RA) dan Imam Mundhiri (RA) juga berdiam diri terhadap riwayat ini.

    12. Niat Shalat Idul Fitri dan Idul Adha

    والحديث سكت عنه ابو داود والمنذري

    Berniat untuk Shalat Ied sebelum melaksanakan, “Saya melaksanakan Shalat Ied hanya untuk Allah (Subhana Wa Ta’ala) dengan enam tambahan takbir”.

    Sedangkan niat tidak perlu diucapkan secara verbal, namun cukup dalam hati.

    حدثنا ‏ ‏الحميدي عبد الله بن الزبير ‏ ‏قال حدثنا ‏ ‏سفيان ‏ ‏قال حدثنا ‏ ‏يحيى بن سعيد الأنصاري ‏ ‏قال أخبرني ‏ ‏محمد بن إبراهيم التيمي ‏ ‏أنه سمع ‏ ‏علقمة بن وقاص الليثي ‏ ‏يقول سمعت ‏ ‏عمر بن الخطاب ‏ ‏رضي الله عنه ‏ ‏على المنبر ‏

    ‏قال سمعت رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يقول ‏ ‏إنما الأعمال ‏ ‏بالنيات ‏ ‏وإنما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته إلى دنيا ‏ ‏يصيبها ‏ ‏أو إلى امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه ‏

    Artinya:

    Diriwayatkan oleh ‘Umar bin Al-Khattab (RA): Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Sallam) bersabda, “Balasan dari tindakan tergantung tergantung niat dan setiap orang akan mendapatkan balasannya menurut apa yang ia niatkan. Jadi, barangsiapa yang hijrah karena Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya bagi Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrah untuk keuntungan dunia atau untuk seorang wanita yang ia ingin nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia niatkan untuk berhijrah.” [Bukhari].

    13 Shalat Ied dimulai dengan Takbir pertama, yaitu Takbiratul-Ihram diikuti oleh Thana

    حدثنا ‏ ‏محمد بن مهران الرازي ‏ ‏حدثنا ‏ ‏الوليد بن مسلم ‏ ‏حدثنا ‏ ‏الأوزاعي ‏ ‏عن ‏ ‏عبدة ‏ ‏أن ‏ ‏عمر بن الخطاب ‏ ‏كان يجهر بهؤلاء الكلمات يقول سبحانك اللهم وبحمدك تبارك اسمك وتعالى ‏ ‏جدك ‏ ‏ولا إله غيرك ‏ ‏وعن ‏ ‏قتادة ‏ ‏أنه كتب إليه يخبره عن ‏ ‏أنس بن مالك ‏ ‏أنه حدثه ‏

    ‏قال صليت خلف النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وأبي بكر ‏ ‏وعمر ‏ ‏وعثمان ‏ ‏فكانوا يستفتحون ‏ ‏ب ‏

    ‏الحمد لله رب العالمين ‏

    ‏لا يذكرون ‏ ‏بسم الله الرحمن الرحيم ‏ ‏في أول قراءة ولا في آخرها ‏

    ‏حدثنا ‏ ‏محمد بن مهران ‏ ‏حدثنا ‏ ‏الوليد بن مسلم ‏ ‏عن ‏ ‏الأوزاعي ‏ ‏أخبرني ‏ ‏إسحق بن عبد الله بن أبي طلحة ‏ ‏أنه سمع ‏ ‏أنس بن مالك ‏ ‏يذكر ذلك ‏

    Artinya:

    ‘Abda meriwayatkan: ‘Umar bin al-Khattab biasa mengumandangkan ketiga kata-kata ini dengan geras: Subhanak Allahumma wa bi hamdika wa tabarakasmuka wa ta’ala jadduka wa la ilaha ghairuka [Segala puji bagiMu,0h Allah, dan diriMu yang berhak dipuji, dan terpujilah NamaMu, dan Agunglah keagunganMu, tiada apapun yang pantas disembah selain diriMu]. Qatada memberitahukan dalam korespondensi bahwa Anas bin Malik telah meriwayatkan padanya: Saya melaksanakan Shalat dibelakang Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Sallam) dan Abu Bakar dan Umar dan Usman. Mereka mulai (Mengumandangkan dengan keras) yaitu: Al-hamdu lillahi Rabb al-‘Alamin [Segala Puji bagi Allah, Tuhan semesta alam] dan tidak membaca Bismillah ir- Rahman- ir-Rahim (Dengan keras) di awal bacaan atau di akhir bacaan. [Muslim].

    سبحانك اللهم وبحمدك تبارك اسمك وتعالى ‏ ‏جدك ‏ ‏ولا إله غيرك

    Artinya:

    Segala puji bagiMu, 0h Allah, dan diriMu yang berhak dipuji, dan terpujilah NamaMu, dan Agunglah keagunganMu, tiada apapun yang pantas disembah selain diriMu.

    Sebagai catatan: Para Ulama telah menjelaskan mengenai alasan kenapa Umar bin Khattab (RA) mengumandangkannya dengan keras bertujuan untuk mengajarkan dan kenyataannya dibaca secara pelan sebagaimana kebiasaan.

    Rakaat pertama Shalat Ied

    Imam akan mengumandakan tiga takbir tambahan dan makmum akan menaikan tangan dan menjatuhkannya. Dan pada pengumandangan takbir keempat kemudian tangan dilipat (sedakep) kemudian sang Imam akan menunaikan rakaat seperti umumya Shalat dengan membaca Surat Al Fatihah dan Surat lainnya.

    Rakaat kedua Shalat Ied

    Pada rakaat kedua, Imam akan membacakan Surat Al Fatihah dan kemudian Surat lainnya kemudian mengumandangkan tiga takbir tambahan dan setiap makmum akan mengangkat tangan kemudian menjatuhkannya. Setelah takbir keempat kemudian Ruku’ dan Imam akan menyelesaikan rakaat seperti Shalat pada umumnya.

    Surat Al Qur’an yang dibaca pada Shalat Ied

    Adalah Mustahab (Dianjurkan) bagi Imam untuk membaca Surat Al A’ala (Surat ke 87) pada Rakat pertama sedangkan pada Rakaat kedua adalah Surat Al Ghasiyah (Yakni Surat ke 88).

    وعن سمرة رضي اللَّه عنه‏:‏ ‏(‏أن النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم كان يقرأ في العيدين بسبح اسم ربك الأعلى وهل أتاك حديث الغاشية‏)‏‏.

    Artinya:
    Samrah (RA) meriwayatkan bahwa Rasulullah (Shallallaho Alaihi Wa Sallam) biasa membaca Surah Al-A’la dan Surah Al-Ghashiya pada Shalat-Shalat Ied. [Ahmad].

    14. DiSunnahkan bagi Imam untuk memberikan Kutbah setelah Shalat Ied

    حدثني ‏ ‏إسحاق بن إبراهيم بن نصر ‏ ‏قال حدثنا ‏ ‏عبد الرزاق ‏ ‏قال حدثنا ‏ ‏ابن جريج ‏ ‏قال أخبرني ‏ ‏عطاء ‏ ‏عن ‏ ‏جابر بن عبد الله ‏ ‏قال سمعته يقول ‏

    ‏قام النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يوم الفطر ‏ ‏فصلى فبدأ بالصلاة ثم خطب فلما فرغ نزل فأتى النساء فذكرهن وهو يتوكأ على يد ‏ ‏بلال ‏ ‏وبلال ‏ ‏باسط ثوبه يلقي فيه النساء الصدقة ‏ ‏

    Artinya:

    Diriwayatkan oleh Ibnu Juraji (RA) : ‘Ata’ (RA) mengatakan kepadaku bahwa ia telah mendengar Jabir bin ‘Abdullah (RA) mengatakan, “Nabi (Sallallahu Alaihi Wa Sallam) berdiri untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri. Setelah melaksanakan Shalat maka beliau memberikan Kutbah. Setelah itu beliau turun (Dari anak tangga) dan menghampiri para wanita dan menasihati mereka sembari berpegangan pada tangan Bilal. Bilal sedang membeberkan jubahnya dimana para wanita memberikan sedekahnya…”[Bukhari].

    15. Sebagian Sahabat (RA) biasa memberikan salam dengan salam berikut ini:

    عن جبير بن نفير قال:كان أصحابُ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ إذا التقوْا يومَ العيدِ يقولُ بعضُهم لبعضٍ : تقبل اللهُ منَّا ومنكَ

    Artinya:

    Sayyidina Jubair ibnu Nufair (RA) meriwayatkan bahwa di masa Nabi (Shallallahi Alaihi Wassallam), ketika orang saling bertemu dengan yang lainnya saat hari Raya, maka mereka mengatakan, “TAQABBAL ALLAAHU MINNAA WA MINKA” Semoga Allah menerima (Puasa dan Ibadah) kami dan kamu. [Fathul-Bari].

    Itulah keseluruhan Sunnah yang dilakukan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sahbihi Wa Sallam saat hari raya. Sebaik-baiknya umat adalah mengikuti tindakan dan prilaku nabinya, dikarenakan nabi adalah sebaik-baiknya pemberi tuntunan, karena tuntunan darinya langsung dari Tuhan semesta alam, yakni Allah Azza Wa Jalla. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua dan silahkan beritahukan kepada keluarga, teman, saudara dan kerabat mengenai artikel tuntunan Shalat Idul Fitri dan Idul Adha sesuai Sunnah.

    Tinggalkan komentar