Waktu Terbaik Shalat Dhuha Dan Berapa Jumlah Rakaatnya

Waktu Terbaik Shalat Dhuha Dan Berapa Jumlah Rakaatnya
  • Advertisements

  • Shalat Sunnah Dhuha amat banyak kebaikannya dan dapat pula meningkatkan kualitas hidup seseorang, merubah hidup seseorang, dan juga begitu besar hal positif didalamnya bagi yang menjadikan Shalat Sunnah ini sebagai kebiasaan setiap harinya.

    Dan di artikel ini akan diurai berupa jawaban dari sejumlah pertanyaan yang biasa diajukan kepada kami seputar Shalat Dhuha, termasuk definisinya, penggambarannya, waktu terbaik untuk melaksanakannya, berserta jumlah rakaat dan masalah lainnya. Silahkan dimulai.

    Definisi dari Shalat Dhuha

    Secara bahasa Dhuha didefinisikan sebagai waktu terbitnya matahari.

    Sedangkan definisi dalam fikih adalah Shalat Sunnah dua rakaat yang dilakukan Nabi secara terus-menerus dan menganjurkan kepada para sahabatnya untuk mengerjakan, dan waktu mengerjakannya adalah antara matahari terbit dan Dhuhur.

    Adapun hukum mengerjakannya adalah Sunnah Mu’akkadah yakni Sunnah yang amat dianjurkan, dengan begitu besar pahala dan keberkahan jika dijalankan, namun bagi yang meninggalkannya tidak akan mendapat dosa.

    Baca juga doa Shalat Dhuha.

    Deskripsi dari Shalat Dhuha

    Shalat Dhuha (Pagi Hari) juga disebut sebagai Shalat Al Awwabin (Adalah Shalat dari orang yang sering bertaubat) yang merupakan Shalat Sunnah dua rakaat yang dimulai dengan Takbiratul Ihram diakhiri dengan Salam (Dengan wajah menghadap ke kanan dan ke kiri). Apabila ingin lebih dari dua rakaat maka diperbolehkan, bahkan diperbolehkan mengerjakannya sebanyak rakaat yang dikehendaki. Namun sekali shalat hanya dua rakaat.

    Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Shalat-shalat (Sunnah) di waktu siang dan malam dikerjakan dengan dua oleh dua.”[at-Tirmidzi 597 dan Ibn Mājah 1322].

    Apa yang dimaksud dengan dua oleh dua?

    Ibn ʿUmar raḍyAllāhu ‘anhu menjelaskan: “(Adalah) Salam setelah setiap dua raka’at.” [Muslim].

    Cara Mudah Menentukan Batas Waktu Shalat Dhuha

    Saat ini banyak kalender yang dilengkapi jadwal shalat yang diterbitkan oleh Depag atau Tarjih Muhammadiyah, termasuk beberapa kampus islam.

    Mengenai cara mudah menentukan waktu Shalat Dhuha adalah dengan menambahkan dan mengurangi 15 menit pada waktu matahari terbit dan waktu Dhuhur, seperti ini.

    Perhatikan waktu terbitnya matahari:

    1. Waktu awal masuk Dhuha: waktu terbit matahari + 15 menit
    2. Batas akhir waktu Shalat Dhuha: waktu dzuhur – 15 menit.

    Namun sekarang ini kita sudah dimanjakan dengan teknologi berupa penanggalan waktu-waktu Shalat termasuk Dhuha, silahkan melihatnya di jadwal waktu Shalat Dhuha secara real time.

    Waktu terbaik mengerjakan Shalat Dhuha

    Waktu mengerjakan Shalat Dhuha adalah setelah matahari terbit dan berakhir sekitar 15 menit sebelum masuknya waktu Shalat Dhuhur. Waktu terbaik untuk mengerjakan Shalat Dhuha adalah bagian paling panas dari hari itu, ketika matahari mencapai titik zenit (titik tertinggi) adalah sekitar setengah jalanan antara terbit matahari dan waktu Dhuhur.

    Nabi ﷺ bersabda:

    صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

    “Sholatnya para Awwabin adalah ketika anak unta mulai kepanasan.” (HR. Muslim 748).

    Jumlah Rakaat Shalat Dhuha

    Jumlah rakaat minimal Shalat Dhuha

    Adapun jumlah minimum Shalat Dhuha adalah 2 rakaat menurut kesepakatan para ulama [al-Mundhiri dalam at-Targheeb wat-Tarheeb (1/320) dan as-Safārini dalam Sharh Thulāthiyyat al-Musnad (2/306) ].

    Jumlah rakaat maksimal Shalat Dhuha

    Tidak ada riwayat jelas yang mengatur batasan jumlah rakaat untuk Shalat Dhuha, namun begitu terdapat sejumlah pendapat ulama mengenai masalah ini, adalah sebagai berikut:

    Pendapat pertama: 8 rakaat

    Pendapat ini dari mazhab Hanbali dan Maliki berdasarkan riwayat berikut:

    Diriwayatkan oleh Ummu Hani Binti Abu Thalib, di saat pembukaan (Mekkah), Rasulullah ﷺ melaksanakan Shalat Duha sebanyak delapan rakaat, disertai salam setelah 2 rakaat.[Sunan Ibn Mājah (1323]

    Umm Hāni’ mengatakan: “Aku tidak pernah melihat Nabi ﷺ mengerjakan shalat lebih ringan dari shalat (Dhuha) itu, namun dirinya melakukan ruku’ dan sujud yang sempurna.”[Sunan Ibn Mājah 1323]

    Maliki menganggapnya Makruh jika melaksanakannya lebih dari 8 rakaat jikalau Sholat Sunnah itu diniatkan sebagai Dhuha, dan mereka menganggap 6 rakaat sudah layak dan lebih disukai.[ad-Dasuqi, Hāshiyat ad-Dasuqi, 1/313]

    Pendapat kedua: 12 rakat

    Ini adalah pendapat yang dipegang oleh umumnya mazhab Syafi’iPendapat Syāfi seperti yang dijelaskan oleh an-Nawawi, adalah 12 rakʿahs. Al-Majmūʾ 4/36.] dan Hanafi dan juga sebagian mazhab Hanbali[Al-Mawsuʿah al-Fiqhiyyah, hal. 226]:

    “Barangsiapa yang Shalat Dhuha sebanyak dua belas rakaat, Allah akan membangunkan untuknya sebuah istana emas di Surga.”

    Riwayat ini dianggap lemah oleh  Ibn ʿĀbidin  dalam Hāshiyat Ibn ʿĀbideen, 1/459. Dan bukan sebagai batasan mengenai jumlah rakaat dari Shalat Dhuha.

    Pendapat ketiga: Tanpa batas rakaat

    Pendapat ini dipegang oleh al-Aswad b. Yazīd (d. 75/694), Ibrahīm an-Nakhaʿī (d. 96/714), at-Tirmidhi (d. 279/892), al-ʿIrāqi (d. 806/1403), as-Suyūti (d. 911/1505), dan ulama masa awal dan akhir lainnya.

    Al-ʿIraqi (r) dalam komentarnya pada Sunan at-Tirmidzi mengatakan:

    “Tidak ada seorang sahabat pun atau [para] penerusnya yang diketahui memberikan batasan menjadi dua belas rakaat.” Dan As-Suyūti setuju dengan pendapat ini.

    Ibrahīm an-Nakhaʿī meriwayatkan bahwa al-Aswad b. Yazīd ketika ditanya:

    “Berapa rakaat yang dikerjakan untuk Shalat Dhuha? Dia menjawab: “Sebanyak yang engkau sukai.”

    Dengan kata lain, tidak ada batasan mengenai berapa rakaat yang dikerjakan di waktu Dhuha, dan riwayat-riwayat ini mengindikasikan bahwa tiada seorang sahabat atau pengikutnya yang membatasi Shalat Dhuha menjadi dua belas rakaat. Oleh karenanya seluruh Shalat Sunnah yang dikerjakan antara matahari terbit dan Dhuhur maka termasuk kedalam Shalat Dhuha, Allahu a’lam Bishawab.

    Jumlah rakaat paling Afdol untuk Shalat Dhuha

    Meskipun dalam setiap Mazhab, para ulama memegang pendapat yang berbeda mengenai rakaat yang paling utama untuk Shalat Dhuha.

    Maliki memilih enam rakaat [Hāshiyat ad-Dasuqi, 1/313], dan Hanafi memilih empat atau delapan rakaat [ad-Durr al-Mukhtār 1/459], sedangkan Syafi’i memilih 8 rakaat [Rawdat at-Tālibeen, 1/332] adapun Hanbali tidak membatasi berapa jumlah Rakaat paling afdol untuk Shalat Dhuha.

    Berdasarkan bukti otentik yang ada, jumlah rakaat paling afdol adalah hanya Allah yang tahu, setidaknya mengerjakan 4 rakaat, hal ini berdasarkan dua hadits berikut ini.

    1. ʿAishah Radhiyallahu Anha meriwayatkan: Rasulullah ﷺ biasa mengerjakan empat rakaat pada shalat pagi hari dan terkadang lebih sebagaimana Allah sukai.[Sahih Muslim 719]
    1. Nabi ﷺ bersabda: “Allah Yang Maha Agung berfirman: ‘Oh anak Adam, jangan melalaikan shalat 4 rakaat bagi-Ku sebagai awal harimu, dan (Sebagai pahalanya) Aku yang akan mencukupimu hingga akhir.’”[bu Dāwūd (1289), Musnad Ahmad (22469), al-Haythami (2/239), dan Sahih at-Targheeb (672].

    Baca juga tata cara Shalat Dhuha.

    Akhirul kalam

    Shalat Dhuha merupakan Shalat Nafilah yang amat utama kebajikan dan pahalanya dimana Shalat ini dikerjakan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam dan diikuti oleh para sahabatnya beserta para ulama Salaf berikutnya. Dengan begitu sudah sewajarnya bagi kita juga menjadikan Shalat ini sebagai kebiasaan di waktu pagi hingga menjelang masuknya waktu Dhuhur.

    Dan Insya Allah kita mendapatkan pahala yang dijanjikan Allah melalui lisan nabi-Nya dan termasuk orang-orang yang diselamatkan baik di dunia dan di akhirat, Aaamiiin Allahuma Aaamiiin. Silahkan beritakan kepada keluarga, teman dan kerabat mengenai informasi tentang waktu terbaik mengerjakan Shalat Dhuha dan berapa jumlah rakaat untuk mengerjakannya. Dan sampai jumpa lagi di artikel-artikel Dakwah Islam dari AiTarus.Com berikutnya.

     

    Tinggalkan komentar